Foto tersebut berisi sebuah kertas dengan kalimat berbahasa Italia dan terpasang di atas keranjang berisi sejumlah tumpukan semangka. Namun kalimat itu ternyata dianggap menyinggung netizen China.
"Avviso. Si prega la gentile clientela di non bussare. Sui cocomeri tanto non rispondono!" ujar tulisan di kertas tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemberitahuan yang entah berisi peringatan atau lelucon tersebut ternyata membuat netizen China merasa tersinggung. Mereka tersinggung karena larangan mengetuk semangka tersebut.
Alasannya, banyak warga China merasa bahwa larangan tersebut menyudutkan mereka terkait kebiasaan penduduk Negeri Tirai Bambu yang gemar mengetuk semangka sebelum membeli.
Namun sejatinya, mengetuk semangka bukan hanya menjadi kebiasaan orang China. Mengetuk semangka menjadi bahasa umum yang kerap digunakan di seluruh dunia dalam mengecek kematangan semangka.
Banyak yang beranggapan bahwa ketika semanga diketuk dan muncul suara gema seperti benda berongga, maka semangka tersebut matang. Namun bila terkesan padat, maka semangka belum siap dimakan.
Masalahnya, beberapa pedagang dan juga pasar swalayan tidak berkenan membiarkan semangka mereka diketuk-ketuk calon pembeli. Hal ini karena dikhawatirkan menyebabkan semangka jadi memar dan gagal dijual.
Sebenarnya ada beberapa tanda menemukan semangka yang matang. Pertama, bila semangka terasa berat maka semangka sudah layak dibeli.
Kemudian, bila terdapat bagian sisi semangka yang kuning, maka tanda tersebut sudah matang. Bila 'tanda' tersebut masih putih, itu tanda semangka belum masak.
Selain diketuk, cara disentuh sebenarnya lebih aman untuk mengecek kematangan semangka. Bila semangka terasa keras namun kenyal, berarti semangka telah masak.
(meg)