Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism dan dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari University of Sydney dan the Garvan Institute of Medical Research. Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menggunakan lalat buah sebagai objek penelitian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan ketika pemberian sukralosa dihentikan, lalat buah tersebut kembali mengonsumsi kalori dalam jumlah normal. Menurut para peneliti, mengonsumi sukralosa justru mendorong tubuh untuk mencari dan makan gula asli.
"Setelah mengonsumsi terus-menerus pemanis buatan, lalat buah lebih dapat menyadari kandungan gula asli walaupun dalam jumlah yang sedikit, kemudian mereka akan terdorong makan lebih banyak dan secara fisiologi tubuh mereka akan merespon lebih optimal," kata Greg Neely, pemimpin penelitian, seperti dilansir Scientific American.
Tim peneliti juga menemukan bahwa ada keterkaitan antara dampak konsumsi gula buatan dengan sistem saraf pada otak. Ketika seseorang mengonsumsi gula buatan, maka kandungan kalori yang rendah membuat otak merespon dengan efek seperti berada dalam kondisi lapar.
Rasa manis yang dirasakan otak dari pemanis buatan tidak sebanding dengan kandungan kalori yang diterima dan dibutuhkan oleh tubuh. Ini menyebabkan otak mendorong tubuh untuk meningkatkan konsumsi makanan.
Hasil pengujian lainnya pada tikus selama tujuh hari juga menunjukkan hal serupa. Tikus yang diberi konsumsi rendah kalori justru cenderung makan lebih banyak sebesar 50 persen dibandingkan tikus mengonsumsi gula asli.
"Temuan yang kami temukan dari respon kelaparan ini membuat makanan bernutrisi itu lebih baik ketika Anda benar-benar lapar," katanya. "Setidaknya melalui penelitian ini menunjukkan pemanis buatan tidak sepenuhnya berguna bagi hewan. Butuh penelitian lebih lanjut guna mengetahui dampak khusus bagi manusia." (les)