Pentingnya Bicara Masalah Mental di Lingkungan Kerja

Megiza , CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 17:20 WIB
Pentingnya Bicara Masalah Mental di Lingkungan Kerja Ilustrasi.(Thinkstock/Dolgachov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kantor atau tempat kerja adalah lingkungan yang paling penting untuk mendiskusikan masalah kesehatan atau penyakit mental. Namun di satu sisi, kondisi kesehatan mental adalah hal yang tidak ingin kita dengar di dalam kantor.

Karyawan atau pekerja kantor terbilang takut untuk mendiskusikan isu tersebut dengan rekan kerja apalagi dengan atasan. Mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan, merusak hubungan atau tidak siap dinilai negatif oleh rekan yang lain.

Stigma negatif kesehatan mental itu sering membuat seorang karyawan lebih memilih diam. Padahal atasan ataupun pemilik perusahaan mempunyai kesempatan untuk mengubah kondisi ketakutan tersebut.

Dilansir dari Huffington Post, diprediksi sekitar 85 persen masalah atau kondisi mental karyawan di Amerika tidak terdiagnosa ataupun mendapat perawatan.

Perusahaan atau atasan sebenarnya memiliki banyak alasan untuk memerhatikan masalah mental karyawannya. Kondisi kesehatan mental karyawan dapat memengaruhi sebuah perusahaan untuk kehilangan US$100 juta hingga US$217 miliar per tahunnya.

Dengan mengetahui permasalahan kesehatan mental anak buahnya, atasan ataupun perusahaan dapat meningkatkan produktivitas ataupun retensi pegawai.

Berikut ini, beberapa keuntungan yang didapatkan jika perusahaan ataupun lingkungan kerja peduli dengan permasalahan kesehatan mental dan mendiskusikannya.

Membantu karyawan lebih bahagia, percaya diri dan produktif

Jika ada seorang karyawan yang telah didiagnosa memiliki kelainan dalam menghadapi rasa panik, dan menderita serangan panik saat bekerja, maka dia akan merasa tidak nyaman jika lingkungannya menunjukkan stigma negatif akan masalah kesehatan mental. 

Si karyawan mungkin tidak ingin mencari pengobatan, dan akhirnya membuat performa kerjanya menurun. Atasannya pun akan sangat mungkin memecat dia.

Dalam lingkungan kerja di mana dia bisa duduk dan berbicara dengan atasannya tentang masalah yang dihadapinya, situasi pun dapat diperbaiki. Atasan dapat merekomendasikan bagaimana dia mengendalikan rasa paniknya di dalam kantor.

Atasan dan bawahan pun dapat bekerja sama untuk mencari solusi agar si bawahan dapat meningkatkan performanya dan menjadi lebih berharga untuk perusahaan. Cara ini dapat meningkatkan rasa bahagia sekaligus percaya diri.

Menghancurkan stigma penyakit mental

Bayangkan seorang wanita yang merasakan depresi. Pada malam hari, dia bertemu terapisnya dan mengatakan tidak perlu malu dengan kondisinya. Dia pun merasa beruntung karena memiliki keluarga dan teman atau pasangan yang menerima masalah yang sedang dialaminya. 

Kemudian, di pagi hari, di lingkungan kerjanya tidak ada yang berani membahas soal penyakit mental dan berpikir kondisi tersebut tidak ada di dalam lingkungan mereka. Kalapun ada pembicaraan, maka obrolan tentang kesehatan mental itu menjadi hal yang negatif.

Tidak semua rekan kerjanya paham dan sensitif. Mereka menuduh orang yang mengaku punya masalah mental hanya beralasan untuk malas-malasan ataupun mendapat perlakukan khusus. 

Kondisi seperti itu menjadi kesulitan baru untuk si wanita, ketika tidak ada satu orang pun di lingkungan kerjanya yang mau berhadapan langsung dengannya. Tidak ada rekan kerja yang mengajak berbicara dan meyakinkan bahwa tak masalah jika dia mengalami depresi.

Padahal ketika orang ingin mengungkapkan masalah kesehatan dengan cara yang positif, mereka membutuhkan semangat dan rasa diterima atas apa yang ada di dirinya. Lingkungan yang tidak konsisten dan tak memberikan reaksi positif dapat membuat perlawanan atas stigma negatif kesehatan mental kian sulit.

Menciptakan budaya menerima

Seorang filantropi bernama Adam Shaw menciptakan lingkungan kerja yang terbuka dengan kondisi obsessive-compulsive dan mendiskusikan kepada anak buahnya. Dia juga salah satu penulis buku Pulling the Trigger: OCD, Anxiety, Panic Attacks and Related Depression - The Definitive Survival and Recovery Approach

Shaw membuat bawahannya berani untuk terbuka dengan kondisi mental mereka, atau setidaknya menceritakan 'keanehan' yang membuat mereka unik. Targetnya adalah membuat karyawan merasa wajib membantu orang dengan masalah mental dan melihatnya sebagai kondisi yang normal dialami manusia.

Konsultan masalah mental lingkungan kerja, Nancy Spangler, mengatakan cara Shaw dapat memberikan keuntungan untuk semua pihak di perusahaan tersebut.

"Banyak orang yang mungkin saja tidak menyadari bahwa atasan mereka pun pernah berjuang dan mendapatkan perawatan untuk mengatasi masalah itu," katanya.

Budaya sebuah perusahaan dapat menarik banyak karyawan baru dan mempertahankan karyawan lama

Bukan tidak mungkin karyawan yang mempunyai talenta atau berharga di suatu perusahaan mengalami masalah mental. Jika perusahaan ingin mempertahankan mereka, maka harus dimulai dengan budaya menerima.

Banyak orang yang tidak masalah bekerja tanpa kenaikan gaji asalkan perusahaan tempat dia bekerja mampu menerima kondisi kesehatan mentalnya. Hal ini dapat menjadi keuntungan ketika bersaing dengan perusahaan dengan anggaran besar. 

Karyawan biasanya lebih memilih menetap di perusahaan yang terbuka dalam membahas masalah mental ataupun memberikan terapi.

Sedikit stres di kantor dan membawa banyak keuntungan saat pulang ke rumah

Ketika orang merasa stres dengan masalah di kantor, mereka akan membawanya ke rumah. Kondisi itu kemudian berdampak negatif pada kehidupan dan hubungan mereka di luar lingkungan kerja.

Dengan menciptakan lingkungan yang terbuka dengan diskusi kesehatan mental, maka stres yang dibawa pulang ke rumah pun akan jauh berkurang.

Membuat orang lebih merasa dilibatkan

Masalah mental dapat membuat seseorang merasa terisolasi. Rasa kesepian pun dapat menimbulkan sakit yang lebih parah lagi seperti depresi. Perusahaan atau atasan dapat mencegah kondisi ini dengan membuat karyawannya bertemu orang-orang yang memiliki masalah yang sama.

"Kita semua ingin terlibat dalam kelompok-kelompok sosial. Apa yang menjadi ancaman kelompok kita, biasanya juga menjadi ancaman untuk diri kita sendiri," kata Psikolog Lauren Callaghan.

Penyertaan kelompok sosial dalam lingkungan kerja dapat membuat orang lebih bahagia dan sudah seharusnya penyakit mental tidak menjadi masalah.

Membuat lingkungan kerja terlibat

Beberapa dekade lalu, status LGBT tidak dapat dengan mudah ditunjukkan di lingkungan kerja. Mereka cemas akan dipecat atau tidak diterima di lingkungannya. Namun hal itu tak lagi dirasakan saat ini.

Kondisi mental mungkin berbeda dengan orientasi seks. Namun ide untuk mendapatkan kebebasan dan terbuka dengan segala aspek yang ada dalam diri seseorang adalah hal yang sama.

Sudah waktunya semua orang mendapat kebebasan, dan tempat pertama untuk memulainya adalah di lingkungan Anda bekerja.