Dikutip dari Amusing Planet, sekilas tempat ini tak tampak seperti hutan, melainkan mirip reruntuhan kuil kuno. Batu-batu besar berdiri secara alami. Bebatuan itu berjajar sejauh delapan kilometer di sepanjang utara pantai Bulgarian Black Sea.
Tinggi bebatuannya hampir menyamai pohon, sekitar lima hingga tujuh meter dengan ketebalan sekitar 30 centimeter sampai tiga meter. Tak heran bila Pobiti Kamani disebut hutan batu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 1828, hutan batu ini telah lebih dulu didokumentasikan oleh sebuah komunitas ilmiah. Hal ini menunjukkan bahwa tempat tersebut telah dikenal sejak zaman kuno.
Sejak saat itu lah berpuluh-puluh teori telah disodorkan guna menjelaskan asal usul bebatuan, kapur dan pertumbuhan karang yang membuat rongga pada batu.
Salah satu penjelasan yang paling masuk akal dipaparkan oleh ahli geologi Bulgaria, Peter dan Stefan Bonchev Gochev.
Kedua kakak beradik ini percaya bahwa sekitar 50 juta tahun yang lalu, tepatnya pada Era Kenozoikum, dataran Eropa Timur tertutup oleh lautan. Sedimen dan lumpur pun mengendap di bagian dasar laut, dan mengalami tekanan hingga menjadi kapur.
Beberapa waktu kemudian, menurut Peter dan Stefan, gas metan di endapan tersebut mulai menyerap ke bagian dalam endapan, sehingga membuat tabung panjang atau rongga.
Jutaan tahun kemudian, air laut pun surut dan meninggalkan endapan-endapan tersebut. Hingga kini, penjelasan dari kakak beradik tersebut lah yang masih dipercaya masyarakat setempat.
Keunikan Pobiti Kamani pada akhirnya membuat UNESCO menobatkannya sebagai Situs Warisan Dunia pada 2011 lalu.
Jika tempat tersebut terlalu jauh untuk dijangkau, mungkin terlebih dahulu Anda bisa bergegas menuju Stone Garden yang berada di Padalarang, Jawa Barat.
(vga/vga)