Kini, pameran ‘warisan’ itu dikemas dalam bentuk Festival Kota Lama dan Pasar Malam Sentiling, yang digelar pada akhir pekan lalu, 16-18 September 2016.
Pameran tersebut berlokasinya di Kolam Retensi 'Polder' Tawang, di depan stasiun kereta api legendaris Semarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, festival tahunan ini diberi nama Festival Kota Lama, yang memang bertujuan memperingati sebuah perhelatan akbar di era kolonial Belanda bernama Tentoonstelling.
Adapun nama 'Sentiling' merupakan pelesetan dari Tentoonstelling, yang ternyata cukup rumit dilafalkan oleh lidah lokal.
Tahun ini, Pasar Malam Sentiling mengambil tema 'Kuno Kini Nanti' yang menunjukkan adanya keterkaitan antara situasi masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.
Tema tersebut diterjemahkan menjadi zona lokasi di area pameran, yakni area 'Kuno' yang menghadirkan berbagai kuliner tempo doeloe, area 'Kini' yang diramaikan dengan panggung apung, tempat pertunjukkan dari musisi Indonesia, serta area 'Nanti' yang diisi pameran foto, gambar dan hasil riset vision branding Kota Lama bekerja sama dengan The Missing Link dari Belanda.
Ada juga pameran foto tentang kehidupan di Kota Lama oleh fotografer asal Belanda, Isabelle Boon.
Pameran akbar Tentoonstelling pertama, yang digelar lebih dari seabad lalu, dijejali pengunjung dari berbagai negara, termasuk China dan Australia. Dulu, di acara tersebut juga diadakan pertandingan sepak bola internasional yang pertama.
“Pameran Tentoonstelling ini menjadi bagian penting dari sejarah persepakbolaan Indonesia dan membuat kota Semarang mendunia,” terang Staf Ahli Menteri Pariwisata Hari Untoro Drajad, dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, pada Selasa (20/9).
Selain bazar, Pasar Malam Sentiling juga diramaikan dengan pertunjukan musik, fashion show, serta pameran warisan budaya. (vga)