"Darah itu adalah nutrisi bagi bakteri. Jadi bakteri akan bertumbuh semakin banyak kalau terus dibiarkan," ujar dokter spesialis obsteric dan ginekologi, dr. Liva Wijaya, SpOG. "Jadi harus tetap diganti tiga sampai empat jam sekali," tambahnya.
Tak hanya itu, Liva juga mengatakan bahwa meskipun darah yang keluar sedikit, tetap saja ada cairan vagina yang mengandung banyak mikroorganisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, jika bakteri yang ada di cairan vagina bertemu dengan darah menstruasi, maka bakteri akan terus berkembang.
"Dengan keadaan menstruasi tersebut, biasanya ph vagina akan sedikit berubah. Apabila tubuh tidak memiliki pertahanan yang baik, maka bakteri tersebut bisa menimbulkan infeksi pada bagian vulva," paparnya.
Infeksi tersebut lah yang kemudian bisa membuat bakteri merambat naik ke arah leher rahim, bahkan hingga ke rahim dan saluran telur.
"Dari saluran telur itu lah nantinya akan tersambung ke arah panggul," jelas Liva.
Jika perempuan terkena infeksi panggul, maka hal terburuk yang bisa terjadi selain rasa nyeri adalah sulit hamil dan pelengketan rahim serta usus.
Parahnya, gejala ini pun tidak terasa. "Itu baru akan terasa kalau infeksinya sudah sangat berat," kata Liva.
Proses tersebut memerlukan waktu yang panjang dan berulang, sehingga para perempuan disarankan untuk segera meninggalkan kebiasaan menggunakan pembalut terlalu lama, dan menggantinya dengan kebiasaan baru, yaitu membersihkan daerah kewanitaan.
Selain itu, bukan hanya darah saja yang menjadi faktor utama berkembangnya bakteri, "tapi juga karena lembab, sehingga jadi tempat yang subur bagi bakteri untuk tumbuh."
(vga/vga)