Dengan total hadiah Rp160 juta, sejumlah pelari dunia, ikut serta. Mulai dari China, Jepang, Jerman, Australia, Afrika dan tentu saja Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk pelari nasional, alasan tampilnya adalah untuk penyegaran selepas mengikuti PON XIX/2016 di Jawa Barat.
“Pelari Kenya sengaja ikut, karena catatan mereka pada tahun lalu belum maksimal. Jadi mereka kembali ke Banyuwangi," ucap Wawan.
Ajang olahraga yang diselenggarakan di Banyuwangi memiliki nuansa yang berbeda, tentu saja karena keindahan alamnya. Rute yang dilalui para peserta diatur melewati sejumlah ikon pariwisata di sana, mulai dari Taman Sritanjung, Taman Blambangan, Pendopo Kabupaten sampai Pantai Boom.
Pantai Boom, yang akan segera disulap menjadi dermaga marina terintegrasi pertama di Indonesia, memang sudah sering dijadikan pusat atraksi seni budaya di Banyuwangi. Salah satu yang sering diselenggarakan ialah Festival Gandrung Sewu.
Tak hanya pemandangan alam, ajang olahraga ini juga dimeriahkan oleh kesenian daerah yang khas, seperti Tari Gandrung dan Tarian Hadrah. Menteri Pariwisata Arief Yahya, yang lahir dan besar di Banyuwangi, mengapresiasi ide kreatif pemerintah daerah tersebut.
"Ajang olahraga seperti ini juga berpotensi mendatangkan wisatawan mancanegara. Tercatat, sekitar 60 persen dari mereka datang kembali ke Banyuwangi untuk menikmati alam dan keseniannya," kata Menpar Arief.
(ard)