Penghargaan ini tentu saja membuat Kementerian Pariwisata (Kemenpar), karena Travel Weekly Asia merupakan media yang sudah eksis selama 14 tahun di Asia Pasifik, setelah pertama kali terbit di Amerika Serikat pada 1958.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pamornya dalam catatan World Economic Forum (WEF) Traval and Tourism Competitiveness Index pun naik, di antara 144 negara dunia, Indonesia meloncat masuk di posisi ke-47.
Pengembangan yang terbilang berhasil ialah pengembangan potensi wisata 3 Greaters, yaitu Bali, Jakarta dan Kepulauan Riau (Batam-Bintan).
“Karena, dari tiga pintu itulah 90 persen wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia. Ketiganya memang paling siap,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Setelah 3 Greaters populer, Kemenpar lalu mengembangkan 10 Bali Baru, dengan target kedatangan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) hingga 2019.
Sedangkan sistem yang disebut lancar ialah pencabutan aturan cabotage untuk kapal pesiar, sehingga kapal dengan bendera asing boleh menaik-turunkan penumpang di pelabuhan di Indonesia.
Ada lima pelabuhan yang sudah membuka cabotage itu, dari Belawan, Tanjung Priuk, Tanjung Perak, Benoa dan Makassar. Deregulasi lain adalah CAIT (Clearance Approval for Indonesian Territory), yang diganti dengan CIQP (Clearance, Immigration, Quarantine and Port).
“Dulu mengurusnya selama tiga minggu, sekarang tinggal tiga jam,” ujar Arief.
Mempertahankan prestasi merupakan tantangan Kemenpar saat ini. Namun, Arief mengaku tetap percaya diri dengan Wonderful Indonesia.
“Saat ini, Kemenpar sudah memiliki tiga rumus untuk mendatangkan 20 juta wisman; mendorong maskapai melakukan penerbangan langsung ke daerah wisata, membangun 100 ribu penginapan bertema Indonesia dan melakukan promosi sebanyak-banyaknya melalui media digital agar lebih mendunia,” kata Arief.
(ard)