"Bisnis wiski di Indonesia sangat menjanjikan. Lihat saja di lima tahun lalu. Bar-bar hanya menyajikan 2-3 jenis wiski saja. Tapi sekarang sudah ada banyak jenis wiski, bukan cuma yang blended malt tapi juga single malt," kata Keith Nair, Brand Trainer Asia Tenggara, saat acara Toast the Macallan di Jakarta.
"Penambahan varian wiski ini menunjukkan minat masyarakat yang tinggi akan minuman ini."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keith menilai, Indonesia adalah penikmat wiski dengan taste (selera) yang kuat.
"Harus saya akui, Indonesia punya strong pallete," kata Keith diiringi tawa.
Kesukaan menikmati rasa wiski yang kuat ini ternyata dipengaruhi oleh kebiasaan makan orang Indonesia.
Keith juga mengatakan, sejak dulu warga Indonesia sudah terbiasa untuk menyantap makanan yang beraroma kuat.
Selain itu kandungan rempah-rempah dalam makanan Indonesia ini juga memengaruhi kemampuan lidah merasakan makanan.
"Makanan dan wiski sama-sama butuh terdeteksi dan terasa di lidah. Jadi saat makanan punya rasa yang kuat, maka wiskinya juga harus kuat."
Jika makanan punya rasa yang kuat tapi dipadukan bersama wiski yang ringan, maka lidah tak akan merasakan wiski yang diminum. Karena sama seperti wine, wiski juga harus mendapatkan pasangan makanan yang sesuai.
"Prinsip pairing wiski adalah saling melengkapi satu sama lain, bukan 'memotong' rasa," ujarnya.
(chs)