Uang Kertas Langka, Wisatawan Mengamen di India

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 06/12/2016 17:01 WIB
Uang Kertas Langka, Wisatawan Mengamen di India Ilustrasi. (REUTERS/ Mukesh Gupta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah wisatawan asal Jerman, Australia dan Perancis melakukan aksi mengamen di kawasan Pushkar, India, demi mendapatkan uang dalam bentuk fisik, yang peredarannya mendadak langka di kalangan masyarakat dalam beberapa waktu belakangan ini.

Dikutip dari Telegraph pada Selasa (29/11), mereka melakukan aksi mengamen tersebut karena mengaku kesulitan membeli makan dan minum, jika tidak memiliki uang dalam bentuk fisik.

Awal bulan ini, pemerintah India mengumumkan secara tiba-tiba, uang kertas 500 rupee (sekitar Rp98 ribuan) dan 1.000 rupee  (sekitar Rp196 ribuan) yang beredar di negaranya tak berlaku lagi, demi menanggulangi maraknya aksi penggelapan pajak dan korupsi.


Pernyataan mendadak itu tentu saja membuat panik seluruh penduduk India, yang langsung menarik uangnya di anjungan tunai mandiri (ATM), untuk kemudian menukarnya dengan nominal yang lebih kecil.

Bank pun kehabisan uang dalam bentuk fisik, yang menyebabkan peredarannya menjadi semakin langka.

Wisatawan yang terlanjut berkunjung ke India lalu menjadi “korban”, karena sebagian besar dari mereka hanya membawa kartu debit dan kartu kredit sebagai alat tukar.

“Penduduk lokal banyak yang berbaik hati kepada kami. Sampai saat ini, kami telah mendapatkan uang sebanyak 2600 rupee (sekitar Rp511 ribuan),” kata salah satu wisatawan asal Jerman seperti yang dikutip dari Hindustan Times.

Uang yang dikumpulkan wisatawan itu rencananya digunakan untuk melakukan perjalanan ke Delhi. Sesampainya di sana, mereka akan meminta bantuan dari kedutaan besar negaranya.

“Kami datang ke sini sejak 8 November, untuk menyaksikan Festival Pushkar yang sangat terkenal,” kata Jayden, wisatawan asal Australia.

“Di waktu yang sama, pemerintah India mengumumkan kalau uang kertas 500 rupee dan 1.000 rupee tidak berlaku lagi. Kami sangat lelah harus selalu mengantri untuk menukar uang,” lanjutnya.

Beberapa wisatawan bahkan mengaku kalau uang kertas 500 rupee dan 1.000 rupee yang mereka miliki ditolak dalam penukaran.

“Sudah tiga jam kami mengantri di ATM, tapi ternyata uangnya habis,” kata Adalane, wisatawan asal Perancis.

“Di beberapa hotel, pembayaran elektronik masih diterima. Tapi untuk membayar di kedai makanan, membayar tiket objek wisata dan tuktuk masih memerlukan uang kertas,” ujar wartawan Telegraph Travel, Oliver Smith, yang kebetulan juga berkunjung ke Delhi dan Rajasthan.

Menteri Dalam Negeri Arvind Kejriwal, membenarkan kalau terjadi sedikit kekacauan setelah langkanya uang kertas 500 rupee dan 1.000 rupee.

Meski demikian, Perdana Menteri Narendra Modi tetap teguh dengan pendiriannya, untuk terus memberantas penggelapan pajak dan korupsi dengan cara demikian.

Modi juga menyatakan kalau wisatawan hanya bisa menukarkan uang sampai nominal 5.000 rupee (sekitar Rp983 ribuan).

(ard/ard)


ARTIKEL TERKAIT