Alasannya, mereka takut terinfeksi virus Zika yang membuat bayi lahir dengan mikrosefalus, atau cacat fisik dimana ukuran kepala bayi lebih kecil dibanding normal. Mikrosefalus tidak hanya menghambat pertumbuhan otak, tapi juga perkembangan anak secara umum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi Diniz dipublikasikan dalam jurnal Family Planning and Reproductive Health Care yang terbit bulan Desember 2016. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei sejak Juni 2016. Data dikumpulkan dari 2002 partisipan, usia 18-39 tahun.
Hasil survei menunjukkan sekitar 50 persen responden menyatakan menghindari kehamilan akibat wabah Zika atau akan melakukan aborsi. Sementara 27 persen lainnya menyebut tetap merencanakan kehamilan, meskipun ada ancaman Zika. Sisanya menyebut tidak merencanakan kehamilan sama sekali.
Zika merupakan penyakit akibat virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti, dan telah mewabah di lebih dari 60 negara dalam satu tahun terakhir. Pada umumnya, Zika tidak menimbulkan ancaman serius bagi penderitanya, namun jika ibu hamil terpapar Zika, bayinya bisa jadi terkena mikrosefalus.
Brasil merupakan negara yang paling parah terdampak Zika, dengan lebih dari 2200 kasus mikrosefalus.
(les)