South China Morning Post mengabarkan, pihak pabrik beras plastik berdalih produknya adalah barang display restoran, bukan untuk dikonsumsi. Apalagi beras plastik dibuat dari polyvinyl chloride atau PVC dan berlabel “artifisial.”
Hal ini ditegaskan oleh Zhou Tao, sales manager pabrik pangan artifisial yang tidak disebutkan namanya dan berlokasi di Yiwu, Zhejiang. Menurut pihak pabrik, hampir semua beras plastik yang beredar di dunia diproduksi di China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ongkos kirim menjadi penyebab melambungnya harga beras plastik di Nigeria. Zhou menyatakan, harga beras plastik di Nigeria dipatok 70 yuan, setara Rp135 ribu, per satu kilogram, atau 10 kali lipat lebih mahal dibanding di China.
Xiong Heping, manajer pabrik lain di Shenzhen, menyatakan, beras plastik pasti diberi label artifisial bila dikirim ke pembeli di China atau di negara mana pun. Lagipula, menurutnya, anak kecil saja tahu ini plastik dari berat dan rasa.
Selain beras plastik, China juga memproduksi mi, sushi, pizza dan cake artifisial, yang diedarkan ke seluruh dunia, termasuk Hong Kong, Amerika dan Eropa. Produk ini didesain untuk digunakan sesuai temperatur dalam ruang.
Maka produk ini jelas mengalami degradasi bila dimasak atau dipanaskan dengan suhu lebih dari 70 derajat Celsius. Agaknya hal ini tidak diketahui oleh para penyelundup beras plastik di Nigeria. Mereka semata mencari untung.
Sejauh ini, menurut Xiong, pemerintah China belum menetapkan regulasi soal pangan artifisial. Maka kasus keracunan atau kecelakaan akibat mengonsumsi beras plastik belum bisa diusut atau dipertanggungjawabkan.
(vga/vga)