Mengenal Kratom: 'Jamu Alternatif' Para Pecandu

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 26/12/2016 19:10 WIB
Mengenal Kratom: 'Jamu Alternatif' Para Pecandu Daun kratom kini diminati oleh sejumlah kalangan sebagai ramuan alternatif pengobatan. (Thinkstock/frank600)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kratom adalah tanaman psikoaktif yang dimanfaatkan sebagai jamu dan ramuan medis tradisonal di sejumlah wilayah Asia Tenggara sejak ribuan tahun silam.
 
Sebuah kajian literatur mengungkap kratom berabad-abad lalu telah menjadi bagian dari tanaman yang dikonsumsi masyarakat terutama mereka yang menetap di Thailand bagian selatan dan Malaysia bagian utara.
 
Kratom termasuk dalam tanaman keluarga kopi (Rubiaceae) penghasil alkaloid penting seperti kafeina. Tanaman tropis itu tumbuh setinggi 4-16 meter dan masyarakat biasa memanfaatkan bagian daunnya yang memiliki lebar melebihi telapak tangan orang dewasa.
 
Sejak dulu, petani maupun nelayan biasa mengonsumsi daun kratom sebagai herbal stimulan yang diyakini berkhasiat mendongkrak produktivitas kerja serta mengusir rasa lelah. Mereka biasa mengonsumsi daun kratom dengan cara dikunyah seperti daun sirih ataupun diseduh layaknya teh.
 
Tanaman berjuluk mitragyna speciosa itu tumbuh di negara-negara tropis seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, dan termasuk di Indonesia. Kratom belakangan dikenal luas di Amerika Serikat dan beberapa negara Eopa lantaran dianggap berkhasiat sebagai alternatif medis rekreasi.
 
Kratom dijual dan dipasarkan layaknya suplemen dalam bentuk kapsul dan serbuk halus. Selain dilabeli ampuh sebagai herbal rekreasi penghilang rasa nyeri, kratom juga diperuntukkan bagi pengguna yang ingin terlepas dari kecanduan narkotik.
Mengenal Kratom: 'Jamu Alternatif' Para PecanduDaun kratom yang telah dihaluskan (Taro Karibe/Hyger)
Komoditas dan pasar pengguna kratom berkembang diiringi dengan serangkaian penelitian ilmiah. Di bidang ilmu kedokteran, sejumlah peneliti mengakui kratom sebagai tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pengobatan alternatif.
 
Profesor yang menekuni bidang pengobatan darurat di University of Massachusetts Medical School, Erdward W. Boyer, mengantongi catatan hasil penelitian yang mengungkap alasan kratom bisa menjadi tanaman medis rekreasi.
 
Jika dikonsumsi dalam dosis rendah, kata Boyer, kratom bisa berperan sebagai stimulan serta membantu meningkatkan fokus. Sementara untuk penggunaan dengan dosis tinggi, kratom bisa menjadi obat penenang yang menghasilkan efek anti-nyeri layaknya candu.
 
Menurut Boyer, sensasi relaksasi itu terjadi karena kandungan aktif dalam kratom, yakni mitragynine dan 7-hydroxymitragynine, mengikat pada opioid receptors dalam tubuh manusia.
 
Boyer menyebut kratom sama ampuhnya seperti morfin dalam hal menghilangkan rasa nyeri. "Anda bisa mendapatkan analgesik yang sangat manjur (dari kratom)," kata Boyer seperti dikutip CNN.

Dibidik DEA

Badan Antinarkotik AS (DEA) menyikapi serius fenomena menjamurnya penggunaan kratom yang menjadi tren di sejumlah kalangan, terutama anak muda. Pada Agustus 2016, DEA memasukkan kratom dalam daftar tanaman (bersubstansi) yang dianggap perlu mendapat pengawasan.


DEA menganggap kratom berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan. Mereka berniat mengklasifikasikan tanaman itu ke dalam jenis narkotika golongan I, layaknya ganja, ekstasi, heroin, dan kokain.

Berdasarkan kajijan DEA, penggunaan kratom dalam jangka panjang bisa menyebabkan orang mudah tersinggung, agresif, perubahan emosi yang labil, pegal-pegal di bagian otot dan tulang, serta kesulitan menggerakkan anggota badan.

Lembaga penegak hukum undang-undang pengawasan psikotropika AS itu kemudian untuk sementara menerapkan larangan pemanfaatan kratom bagi publik. DEA menganggap kratom rentan disalahgunakan oleh publik sebagai candu rekreasi.

Keputusan DEA itu menuai protes dari berbagai kalangan, termasuk dari para peneliti. Mengategorikan kratom sebagai narkotik golongan I dianggap tak ubahnya membatasi ruang gerak peneliti dalam mengkaji lebih jauh manfaat dari substansi tanaman tersebut.

Larangan DEA dianggap kontroversial mengingat tak sedikit warga AS menganggap kratom telah mengubah hidup mereka jauh lebih bermakna dalam arti yang positif.

Mendapati tekanan besar dari publik, DEA pada Oktober 2016 mencabut kebijakan temporal mereka soal larangan pemanfaatan kratom untuk publik.

Untuk menghindari tendensi pengambilan kebijakan secara sepihak, DEA lantas membuka respons atau opini tanggapan dari publik hingga tenggat 1 Desember 2016. Respons publik yang telah masuk nantinya akan menjadi bahan pertimbangan DEA dalam menyikapi status kratom.

Pertimbangan DEA nantinya juga turut merujuk pada masukan formal dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) --yang dianggap kecolongan karena telah meloloskan kratom sebagai tanaman non-candu. Hingga tulisan ini diturunkan, DEA belum mengeluarkan pernyataan resmi lanjutan.

Jauh hari sebelum DEA membuka respons publik terhadap upaya pelarangan kratom, para pengguna tanaman jamu itu telah angkat suara dan memberikan ragam testimoni di sejumlah forum online.

Pengalaman Para Pengguna

The Washington Post sempat mempublikasikan tulisan mengenai penelusuran mereka tentang bagaimana orang-orang merasakan pengaruh, sensasi, maupun efek yang dialami saat mengonsumsi kratom. Literatur yang dijadikan sebagai sumber rujukan adalah situs Erowid.org.

Erowid.org dikenal sebagai situs ensiklopedia online yang khusus mengupas secara rinci tentang zat-zat psikoaktif yang terkandung di berbagai medium. Profil dua pendirinya, yang bernama alias Earth dan Fire, sempat dimuat dalam ulasan mendalam di The New Yorker tahun lalu, bertepatan dengan ulang tahun dua dekade situs mereka.

Di situs Erowid, pengguna berbagai jenis zat psikoaktif mulai dari kafein hingga heroin bisa membagikan pengalaman pribadi saat berada di bawah pengaruh substansi yang mereka konsumsi.

Testimoni para pengguna itu akan mendapat kurasi dari moderator, diklasifikasikan ke dalam sub-kategori, sebelum kemudian dipublikasikan di Erowid.org. Laporan-laporan tersebut biasa dijadikan sebagai rujukan para peneliti maupun para pencari obat yang ingin mengetahui lebih detail mengenai informasi dari suatu substansi.

Khusus untuk kratom, sedikitnya ada 290 testimoni berupa laporan detail pengalaman pengguna yang tercatat masuk dan dimuat di Erowid sejak tahun 2001. Ratusan laporan pengguna kratom itu menjadi rujukan subjek penelitian yang dipublikasikan oleh Marc Swogger dan beberapa koleganya di jurnal Psychoactive Drugs tahun lalu.

Swogger dalam jurnal penelitiannya mencatat dan mengklasifikasikan laporan pengalaman pengguna ke dalam kategori positif dan negatif. Klasifikasi itu kemudian di sub-kategorikan ke dalam sensasi pengalaman seperti euforia, relaks, mual, gatal-gatal, dan sebagainya.

Hasil dari pengklasifikasian Swogger menunjukkan bahwa mayoritas pengguna kratom (30,4 persen) merasakan pengalaman relaks dan nyaman, serta euforia ketika mengonsumsinya dengan dosisi tinggi. "Sejumlah pengguna menggambarkan efek yang mereka alami itu sama seperti yang mereka rasakan ketika mengonsumsi candu," ujar Swogger.

Sementara itu komentar negatif paling banyak atas kratom adalah sekitar 16 persen pengguna mengaku merasakan mual-mual. Di luar itu ada pula yang mengaku kerap menggigil dan berkeringat setiap kali mengonsumsi kratom.

Catatan penting dari penelitian tersebut adalah, di setiap pengalaman positif atas sebuah substansi pasti akan selalu ada pengalaman negatif yang menyertainya.  Namun rasio perbandingan efek pengalaman baik dan buruk dari kratom terbilang lebih kecil ketimbang ganja, heroin, kokain, apalagi alkohol.
Mengenal Kratom: 'Jamu Alternatif' Para PecanduFoto: CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi
Obat Alternatif

Kini banyak pengguna obat, setidaknya di Amerika Serikat, mulai berpaling pada kratom. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) belakangan menerima semakin banyak laporan masalah individu yang berurusan dengan kratom.

Dalam kurun lima tahun terakhir, laporan tentang kratom yang masuk ke CDC mengalami peningkatan 10 kali lipat, dari 26 pada tahun 2010 menjadi 263 pada 2015. Sebanyak 35 persen laporan yang masuk berkaitan dengan kasus penggunaan kratom yang dipadu dengan substansi lain seperti obat penenang benzodiazepin atapun dengan narkotik jenis lainnya.

Beberapa orang memilih kratom karena dianggap ampuh menghilangkan rasa nyeri. Salah satu di antaranya adalah Leonard Rodda, yang kini menjadi penjual kratom dalam kemasan herbal di toko kecil miliknya di Atlanta.

Rodda mulai menjadikan kratom sebagai asupan suplemen harian sejak dua tahun silam. Dia berpaling pada kratom setelah mengalami efek samping buruk dari obat-obatan yang diresepkan dokter usai dirinya mengalami kecelakaan mobil.

Sebelum Rodda mengetahui kratom, kehidupannya diakui sangat memprihatinkan. Obat anti-nyeri yang diresepkan dokter membuatnya tertidur hampir sepanjang waktu. Setiap pergi ke bioskop, misalnya, Rodda pasti akan terlelap di tengah film.

"Itu bukan cara saya menjalani hidup. Saya orangnya selalu aktif. Saya selalu bekerja," kata Rodda saat menceritakan kembali pengalamannya kepada CNN.

Setelah mengenal kratom, Rodda menyadari dirinya yang dulu telah kembali. Dia mengaku belakangan sudah mulai kembali beraktivitas di luar ruangan dan bersepeda seperti biasanya.

"Kualitas hidup itu paling penting, dan saya kira kratom telah memberikan yang terbaik," kata Rodda.

Rodda mengonsumsi dua kapsul kratom setiap pagi. Rasa nyeri yang dia alami pasca kecelakaan mobil kini telah sirna. Banyak dari pelanggan yang datang ke toko Rodda pun memiliki tujuan yang serupa: mencari penghilang rasa nyeri.

"Kratom memang memberimu sedikit euforia," kata Rodda. "Kadang juga bisa membantumu berkonsenterasi lebih baik. Ada juga jenis varian yang mendongkrak mood."

Dijual Bebas Secara Online

Penjualan kratom meningkat karena ada pasar yang membelinya. Tak hanya di Amerika, di Indonesia pun kratom kini menjadi komoditas yang diminati oleh kalangan terbatas.

Kratom dijual dengan kemasan yang sudah rapi dan bahkan sudah memiliki merek dari masing-masing penjual. Para penjual kratom itu menjajakan barang dagangannya secara online, baik melalui Facebook, Instagram, ataupun melalui lapak jasa penjual online.

Kratom dijual dalam kemasan kapsul ataupun serbuk halus. Satu botol kratom biasanya berisi 80-100 kapsul dan dibanderol dengan rentang harga Rp100-200 ribu.

Model penjualan di Indonesia sama seperti yang dilakukan oleh para penjual kratom di Amerika. Di negeri Paman Sam bahkan ada juga yang membuka toko khusus kratom.

Ada banyak jenis varian (strain) dari kratom. Dua strain yang paling banyak dijual adalah kratom jenis Maeng Da dan Red Vein. Maeng Da dipromosikan oleh penjual sebagai kratom penghasil stimulan yang memberi efek meningkatkan mood dan energi.

Sementara Red Vein disebut memberikan efek relaksasi, membuat badan terasa ringan, dan menormalkan peredaran darah. Jika Maeng Da dianjurkan untuk dikonsumsi saat bekerja/beraktivitas, Red Vein disarankan oleh penjual untuk dikonsumsi pada saat bersantai.
Mengenal Kratom: 'Jamu Alternatif' Para PecanduFoto: Dok. Istimewa
Solusi Atau Candu Baru?

Peneliti Erward Boyer mencatat, penggunaan kratom menjadi populer di kalangan terbatas karena kerap diiklankan sebagai suplemen yang bisa menjadi alternatif untuk mengatasi kecanduan dari narkotik atau obat-obatan tertentu.
 
Menurut Boyer, penanganan masalah kecanduan dengan obat-obatan tertentu menuntut pasien untuk lebih sering bolak-balik mendatangi dokter untuk mendapatkan resep. Hal tersebut tidak berlaku untuk kratom, karena pembeli cukup memesannya secara instan melalui online.
 
Meski demikian Boyer menggarisbawahi catatan penting bahwa 'penanganan praktis' yang diberikan kratom tidak berarti bisa disimpulkan sebagai sebuah solusi untuk mengatasi kecanduan.
 
"Dengan menyuguhkan sesuatu yang bisa Anda beli kapan saja, sama artinya menghilangkan peran profesional dalam memberikan bantuan (medis)," kata Boyer, seraya menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi risiko bagi pengguna kecanduan terhadap kratom.