Untuk itu, Surakarta telah menyusun Solo Calender of acara 2017 yang berisi 57 acara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada satu hal berbeda dari Solo Great Sale tahun ini, yakni dilibatkannya berbagai pasar tradisional di kota tersebut. Tahun lalu, Solo Great Sale hanya melibatkan mal, pusat perbelanjaan, hotel dan restoran.
"Ada 12 pasar tradisional yang dilibatkan di acara ini, agar masyarakat tidak meninggalkan pasar tradisional," kata Subagyo, Kepala Dinas Perdagangan Solo pada kesempatan yang sama.
Subagyo mengatakan, tata ruang, kualitas barang dagangan serta harga yang terjangkau menjadi daya tarik pasar tradisional yang akan ditawarkan pada pengunjung. Seluruh kegiatan akan disebar di ke dua belas pasar tersebut.
"Pasar Gede akan dijadikan pusat kegiatan bagi pasar tradisional di Solo Great Sale ini," ujar Subagyo.
Tak aneh bila Pasar Gede akan dijadikan pusat kegiatan di acara ini. Pasar yang dibangun tahun 1929 di atas tanah milik Keraton Kesunanan Surakarta ini memang salah satu ikon kota Surakarta.
Nilai sejarah dan kuliner menjadi daya tarik pasar hasil rancangan arsitek Thomas Karsten ini.
Brambang Asem, Es Dawet, dan Lenjongan adalah beberapa kuliner yang menjadi ciri khas pasar ini. Tentu sesuai dengan misi Solo Great Sale, yakni memperkuat promosi kota Surakarta sebagai tujuan wisata.
Selain Pasar Gede, pasar tradisional lainnya yang juga diikut sertakan dalam Solo Great Sale antara lain Pasar Klewer, Pasar Legi, Pasar Kadipolo, Pasar Triwindu, Pasar Nusukan, dan Pasar Gading.
"Pasar tradisional akan menjadi kekuatan pariwisata Solo," ujar Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo.
Untuk diketahui, penyelanggaraan Solo Great Sale pada tahun 2015 yang diikuti 571 tenant telah menghasilkan omzet Rp80 miliar.
Dan pada 2016, dengan jumlah tenant peserta sebanyak 1.206, acara ini bisa menghasilkan Rp161 miliar.
(ard)