Jelajah Mangrove di Jalur Petilasan Suku Laut

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Minggu, 22/01/2017 15:56 WIB
Jelajah Mangrove di Jalur Petilasan Suku Laut Hutan bakau di Sungai Sebong, Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Selamat datang di Singapura," demikian bunyi penggalan pesan singkat yang diterima seorang kawan dari provider telepon seluler miliknya.

Dia kontan mengernyit karena merasa tidak sedang melancong ke negeri berjuluk Kota Singa. Sore itu kami ada di atas sampan mengitari hutan bakau di Sungai Sebong, kawasan Lagoi, ujung utara Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

Kecipak air dari sapuan gelombang sungai membelah kesunyian hutan ketika mesin kelotok dimatikan. Nuansa hijau pekat menghampar seluas mata memandang berkat sapuan warna dari rimbun dedaunan, akar-akaran bakau, dan sungai serupa agar-agar lumut.


Jelajah mangrove di muara Sebong akhir tahun lalu (22/12) menyuguhkan kilasan napak tilas tentang bagaimana daerah yang dulunya terisolasi, kini berubah menjadi destinasi buruan para turis dari berbagai penjuru negeri, terutama para pelancong Asia.

"Itu dulunya tempat transit penampungan TKI ilegal," ujar Madi sambil menunjuk bekas rumah apung yang kini tinggal menyisakan kerangka.
Rangka pondasi kayu rumah apung itu dulunya disebut sebagai tempat singgah penampungan TKI ilegal sebelum diseberangkan ke Johor atau Singapura. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Madi adalah pemuda asal Sulawesi Utara yang merantau ke Bintan saat ujung pulau di 'Bumi Segantang Lada' itu masih hutan belukar dan jarang penduduk.

Kawasan utara Pulau Bintan didatangi Madi ketika perairan di hutan bakau masih menjadi jalur persinggahan lalu lintas perdagangan gelap.

"Di sini orang biasa barter, jualan barang untuk dibawa ke seberang," ujar Madi sambil menyentakkan dagu ke arah barat laut. Tangannya membentang dengan telapak membentuk mangkuk terbalik. Dia menegaskan bahwa kami saat itu berada persis di tempat yang dia maksud.

Hingga paruh awal 1990-an, kata Madi, perairan bakau di kawasan Lagoi merupakan tempat persembunyian paling aman bagi tengkulak menyuplai kebutuhan negara tetangga. Selain hasil bumi dan kebutuhan pokok, produk dagangan seperti rokok juga paling sering diselundupkan.

Madi tak bisa menampik saat itu kebutuhan ekonomi masyarakat perairan lebih tertunjang oleh keberadaan negara tetangga yang jaraknya cuma hitungan jam. Transaksi barang dan jasa pun menjadi lebih praktis untuk langsung dipraktikkan, tak peduli itu dibilang ilegal.
Madi saat memandu kami menjelajah hutan bakau di Muara Sebong. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Nama Lagoi termaktub dalam cerita rakyat Putri Pandan Berduri. Hikayat itu mengisahkan kehidupan Suku Laut di Pulau Bintan yang dipimpin Batin Lagoi.

Cerita itu setidaknya memberi sedikit gambaran tentang kehidupan masyarakat perairan yang sangat akrab dengan lalu lintas bahari.

Suku Laut adalah para pengembara lautan dari generasi peradaban yang nyata hadir di selat rumpun Melayu. Suku Laut, sering juga disebut Orang Laut atau Orang Selat, dalam beberapa literatur diasosiasikan dengan kelompok lanun.

Namun sejumlah dokumen juga mencatat keberadaan mereka berperan penting di era Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor. Orang Laut diandalkan untuk menjaga selat, mengusir perompak, dan memandu pedagang ke pelabuhan-pelabuhan kerajaan.
Bangkai kapal pengangkut barang teronggok di pinggiran Sungai Sebong. Lokasi ini dulunya menjadi jalur lalu-lintas perdagangan gelap. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Memasuki era imperialisme, rumpun Johor-Riau terpecah. Hasil kesepakatan Traktat London (1824) membagi areal penguasaan dagang Inggris dan Belanda atas dua wilayah yang kelak masuk teritori Malaysia dan Indonesia.

Pelabuhan pusat perdagangan sementara itu beralih ke pulau di ujung semenanjung wilayah Temasek, yang kemudian menjadi Singapura. Syahdan, Bintan saat itu menjadi pulau persinggahan para pedagang dari China dan India.

Bukan hal mengejutkan jika Madi remaja masih sempat menyaksikan kegiatan jual-beli barang dan jasa, termasuk juga manusia, di jalur mangrove yang kami jelajahi sore itu. Sejarah, bagaimanapun, selalu meninggalkan sisa-sisa jejaknya.

"Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi," kata Madi.

Mesin kelotok kembali dinyalakan, dan kami lanjut menyusuri pangkal muara yang semakin menyempit.
Ular mangrove asyik bertengger di pucuk dahan pohon bakau yang kami lewati. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Tentu saja jelajah hutan bakau waktu itu tak melulu bikin menganga. Kami lebih sering dibuat takjub oleh keanekaragaman hayati di sepanjang muara bernama Sebong itu.

Beberapa kali kami berhenti untuk menyaksikan ular mangrove bergelantungan di atas kepala, biawak merayap di dedahanan, atau burung raja udang (kingfisher) yang celingukan di pucuk-pucuk pepohonan.

Bukan hanya kami yang bersampan-sampan sore itu. Kami hanyalah satu dari setidaknya lima rombongan lain yang kebetulan juga tengah menjelajah mangrove. Kebanyakan dari mereka pelancong asal China dan Singapura.

"Kalau kita jalan malam bisa lihat ribuan kunang kelap-kelip di sini," kata Madi.
Wisatawan dari China dan Singapura menjelajah hutan bakau di Sungai Sebong, Lagoi. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Madi kini tergabung sebagai anggota Yayasan Ekowisata Sebong Lagoi selaku pengelola wisata Mangrove Discovery Tour. Mereka berhasil menyulap hutan bakau di Kampung Lagoi kembali lestari setelah sempat kritis akibat pembalakan hutan.

Lagoi pun sekarang telah berubah rupa menjadi kawasan resor paling mewah di Bintan. Lahan seluas 23.000 hektare di wilayah utara pulau itu telah dipatok sebagai areal wisata eksklusif pantai berpasir putih yang langsung menghadap ke Laut China Selatan.

Areal wisata itu memakan hampir sepertiga luas pulau terbesar di Kepulauan Riau. Tak banyak orang Indonesia tahu keberadaan destinasi istimewa di sana. Para pelancong lebih banyak berasal dari Asia Tenggara, terutama Singapura.

Sepanjang 2016, Madi mencatat kami sebagai rombongan wisatawan domestik ketiga yang pernah dia antar menjelajahi hutan bakau di Sungai Sebong. "Atau mungkin yang kedua ya. Saya lupa, karena memang  jarang ada (orang Indonesia) yang ke sini," kata dia.
Wisatawan Asia bermain di areal pantai kawasan Bintan Lagoon Resort yang berbatasan langsung dengan  Laut China Selatan. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Wisata mangrove yang dikelola yayasan Madi turut masuk ladang bisnis pihak pengelola kawasan wisata Lagoi, Bintan Resort Cakrawala. Mereka biasanya menjalin kerja sama dalam bentuk paket wisata bagi turis yang berkunjung ke sejumlah resor di kawasan Lagoi.

Ada sembilan resor utama yang berjejer di pantai perbatasan Laut China Selatan itu. Satu resor termewah di antaranya adalah Bintan Lagoon Resort.

Selain menjadi resor terluas dengan cakupan areal mencapai 300 hektare, Bintan Lagoon Resort juga merupakan satu-satunya resor yang memiliki pelabuhan feri sendiri. Mereka punya terminal khusus dengan rute pelayaran Singapura-Bintan.
Terminal Bintan Lagoon menyediakan layanan feri bagi tamu dari Singapura yang ingin langsung ke kawasan wisata Bintan Lagoon Resort. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Layanan transportasi laut lintas negara itu disediakan spesial untuk tamu resor. Feri itu mempermudah akses turis masuk resor langsung dari negeri seberang yang jaraknya hanya selemparan batu. Dengan tarif berkisar Rp300 ribu, orang bisa menaiki kapal berkapasitas 226 penumpang dengan waktu tempuh tercepat 70 menit.

Bintan Lagoon Resor memiliki total 470 kamar, suite, dan villa bergaya kontemporer. Ada 12 pilihan fasilitas Food & Beverage di sana. Resor elite itu juga menyediakan fasilitas rekreasi berupa lapangan golf 18 hole, 50 macam olah raga laut dan aktivitas darat, serta perawatan spa.

Pihak pengelola menggambarkan resor mereka sebagai "destinasi terintegrasi yang mendukung gaya hidup, sekaligus tempat bersantai pinggir pantai dengan suasana tropis Pulau Bintan".

"Okupansi untuk Natal dan tahun baru ini mencapai lebih dari 80 persen. Hari biasa hampir tidak pernah sepi," ujar Director of Room BLR, Wahyudi.
Wisatawan dari berbagai negara menikmati sarapan di Bintan Lagoon Resort. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Resor mewah berusia 20 tahun itu dikelola seorang entrepeneur dari Singapura, Moe Ibrahim. Dengan mengusung konsep wahana resor privat di belahan pulau, Moe berhasil menarik rombongan keluarga, pebisnis, hingga pasangan bulan-madu yang pelesiran dari lintas negara.

Suguhan panorama di sana boleh dibilang memikat. Hamparan rumput halus, batuan alam, deretan pohon kelapa, hingga 'bukit Teletubbies' disuguhkan untuk menambah kesan liburan yang intim dan romantis. Resor itu dirancang untuk menjadi semacam rumah singgah para pelancong yang mencari privasi.

Belakangan, kami mafhum dengan ucapan SMS 'selamat datang' itu setelah dibuat kikuk saat kesulitan menge-charge baterai ponsel. Pihak resor hanya menyediakan colokan model 3 kaki standar Singapura.
Sepasang kekasih bercengkerama dengan buah hatinya di ‘Bukit Teletubbies’ di kawasan wisata Bintan Lagoon Resort. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Bintan, yang juga dikisahkan sebagai 'pulau ber-intan', kini telah bersolek dan mewujud jadi ladang investasi sektor pariwisata.

Bukan sebuah kebetulan jika pemerintah belakangan ini semakin membuka peluang investor untuk bermodal di pulau-pulau yang 'tak terjangkau' oleh pusat. Bintan dalam hal ini merupakan model, setelah Batam, di Kepulauan Riau yang membuktikan diri berkembang jadi lirikan dunia.

Sektor pariwisata di Pulau Bintan kini menjadi destinasi alternatif pelancong dari negara-negara luar, terutama mereka yang membutuhkan liburan privasi.
Wisatawan sejoli menikmati sore di kawasan wisata Bintan Lagoon Resort. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan secara terbuka telah mempersilakan pemodal untuk berinvestasi di pulau-pulau terluar di Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan sementara itu sibuk mendata ratusan pulau terkecil dan terluar di Indonesia sebagai persiapan administratif sebelum pulau ditaksir investor.

Dari 111 pulau yang didata, 11 di antaranya merupakan bagian dari kawasan 'Sagantang Lada' yang melingkungi Pulau Bintan. Riwayat pulau-pulau selat petilasan Orang Laut itu sedang dicatat untuk kembali diruwat oleh negara. (wis)