Melansir AFP pada Senin (30/1), pernyataan tersebut disampaikan oleh kepala eksekutif Starbucks, Howard Schultz dalam sebuah surat kepada karyawannya yang diunggah di laman resmi perusahaan tersebut.
"Saya menulis kepada Anda hari ini dengan keprihatinan mendalam, dengan berat hati dan janji pasti," kata Schultz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden dari Partai Republik, Donald Trump, meneken peraturan yang melarang masuk seluruh pengungsi ke Amerika Serikat selama 120 hari.
Perintah tersebut juga menolak kedatangan seluruh pengungsi asal Suriah, memblokir kedatangan warga dari tujuh negara mayoritas Muslim selama 90 hari. Tujuh negara tersebut adalah Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.
Schultz mengatakan karyawan imigran baru tersebut akan berasal dari pengungsi perang, penganiayaan dan diskriminasi dari 75 negara tempat beroperasinya kedai kopi itu.
Dalam pernyataannya, dia juga membela Meksiko yang telah disebut Trump harus membayar pembiayaan dinding perbatasan Amerika Serikat-Meksiko. Trump juga menargetkan penambahan biaya 20 persen dari barang impor asal Meksiko.
"Membangun jembatan, bukan dinding, dengan Meksiko," kata Schultz.
"Kami bersiap membantu dan mendukung pelanggan Meksiko, rekan dan keluarga mereka yang terkena dampak negatif dari sanksi perdagangan serta pajak juga kepercayaan dari orang Amerika," lanjutnya.
Kedai kopi yang dipimpin Schultz memiliki lebih dari 600 kedai di Meksiko dan merekrut 7.000 pegawai. Meksiko pula yang selama ini membantu Schultz dalam memasok bahan-bahan.
Schultz diketahui dekat dengan Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat. Schultz juga mendukung Clinton semasa dalam masa kampanye tahun lalu.
(ard)