Hal ini didasari oleh adanya temuan ilmiah terbaru yang menyatakan bahwa anak dapat jadi lebih baik bila memperhatikan kesalahan yang pernah dibuat, dan bangkit dari kondisi tersebut.
Melansir Live Science, para peneliti mengatakan kondisi ini mungkin terjadi karena anak-anak dengan pemikiran yang berkembang lebih fokus pada kesalahan mereka dibanding mereka yang memiliki pemikiran statis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Jangan Paksa Anak untuk Makan |
"Dampak utama dari penelitian ini adalah manusia perlu memperhatikan kesalahan dan menggunakannya sebagai kesempatan untuk belajar," kata Schroder dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Development Cognitive Neuroscience itu.
Temuan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 123 anak rata-rata berusia tujuh tahun. Dalam usia ini, pola pikir anak dipercaya akan mempengaruhi prestasi akademik.
Lihat juga:Menjilat Salju Bisa Berbahaya Bagi Kesehatan |
Dari uji coba itu, anak-anak yang memberikan respons gelombang otak tinggi cenderung lebih perhatian terhadap kesalahan yang diperbuat.
Sementara sisanya dapat dikategorikan sebagai anak yang berpikir statis dan tidak terlalu peduli akan kesalahan.
Peneliti percaya bagi anak dengan pemikiran statis, mereka tetap bisa mengembangkan kemampuan mereka bila benar-benar memperhatikan kesalahan yang pernah dilakukan.
"Menghibur memang naluri alami, tapi cara itu hanya akan mengalihkan perhatian anak untuk belajar dari kesalahan. Lebih baik ajak mereka memperhatikan apa yang salah dan mencari tahu bagaimana yang benar," ujar Schroder. (okt/chs)