Huang Jiefu, pejabat China yang berwenang dalam transplantasi, mengatakan hal tersebut dalam konferensi yang dihadiri hampir 80 dokter, aparat penegak hukum, dan perwakilan organisasi pemerintah serta non-pemerintah di Vatikan, baru-baru ini.
Melansir Reuters, perubahan cara transplantasi ini dianggap Huang bukan upaya China untuk berkelit dan menutupi tindakan di masa lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini bukan untuk menutupi masa lalu, tetapi agar suara China didengar dan untuk memperkenalkan program baru negara ini kepada dunia," kata Huang.
Namun, kelompok advokasi Doctors Against Forced Organ Harvesting (DAFOH) mengatakan tidak ada bukti praktik pemberian organ secara paksa yang dilakukan China telah berakhir.
"Tanpa transparansi, kebenaran dari reformasi yang diserukan itu hanya semu belaka," kata direktur eksekutif DAFOH, Torsten Trey.
Lihat juga:Sepuluh Negara Tersehat di Dunia |
Di sisi lain, Huang mengatakan China serius dalam pemberian hukuman kepada pelanggar hukum. Salah satunya berupa menahan puluhan orang dan menutup 18 lembaga medis yang memaksa pasien.
Namun Huang memohon dunia bersabar karena program baru itu masih dalam tahap pertumbuhan.
DAFOH juga mengkritik Vatikan karena mengundang Huang. Menurut DAFOH, kedatangan China dapat mencederai tujuan dari konferensi penerapan medis secara etis tersebut.
Namun, Vatikan punya pandangan berbeda. Kepala Akademi Kepausan bidang Ilmu Pengetahuan, Monsignor Marcelo Sanchez Sorondo, mengatakan partisipasi Huang dalam pertemuan itu bisa membantu mendorong reformasi. (end/ard)