Sebuah panti jompo di Gothenburg, Swedia, melakukan uji coba dengan mengurangi waktu bekerja sebanyak dua jam, dari delapan menjadi enam selama dua tahun.
Namun, untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga, pihak pengelola tempat harus menyewa 15 tenaga tambahan dengan biaya total 600 ribu euro atau sekitar Rp8,5 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para perawat juga merasa dapat memanfaatkan waktu luang dengan banyak bermain bersama para lansia di rumah jompo tersebut.
Lise-Lotte Pettersson, seorang perawat 41 tahun, mengaku dirinya merasa lebih segar dan memiliki banyak energi untuk bekerja di keesokan hari.
"Dulu saya merasa lelah sepanjang waktu. Saya akan pulang ke rumah dan 'pingsan' di sofa, tapi sekarang saya jadi lebih terjaga. Saya punya lebih banyak energi untuk pekerjaan, dan tentu saja keluarga," ujar Lotte Pettersson seperti dilansir Cosmopolitan.
"Apakah bisa diterapkan di seluruh kota? Jawabannya tidak, itu terlalu mahal." ujar Bernmar.
Bernmar mengaku ragu sistem ini dapat diterapkan secara nasional. Namun pemerintah masih melihat apakah mengurangi gaji sesuai jam kerja akan setara dengan manfaat yang didapat.
(okt/les)