Melansir AFP, lembaga bernama the Spanish National Research Council (CSIS) menggunakan sebuah biosensor untuk mendeteksi keberadaan antigen p24. Antigen p24 adalah jenis protein yang melekat pada virus HIV.
Teknologi tersebut disebut dapat mendeteksi keberadaan protein itu meski pada konsentrasi 100 ribu kali lebih rendah dari teknik yang biasa digunakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil uji yang menggunakan sensor tersebut dipublikasikan Kamis (16/2) dalam jurnal ilmiah PLoS ONE.
"Teknologi ini, dikombinasikan dengan kemudahannya, dapat jadi sebuah pilihan yang cocok digunakan di negara berkembang yang terdampak serius dari HIV," tulis pernyataan Tamayo dalam penelitian itu.
Ten antigen saat ini mampu mengecek HIV dalam tiga pekan setelah infeksi. Pengujian yang mengambil antibodi HIV dapat membutuhkan waktu lebih lama lagi.
Deteksi awal sangat penting untuk mencegah orang terinfeksi menularkan secara tidak sengaja ke pihak lainnya melalui hubungan seksual.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 36,7 juta orang hidup dengan HIV pada 2015. Jumlah tersebut sebagian besar berada di negara dengan pendapatan menengah ke bawah.
Diperkirakan sekitar 2,1 juta orang terinfeksi HIV pada 2015. Dan sekitar 35 juta orang telah meninggal akibat penyebab terkait HIV, termasuk 1,1 juta pada 2015. (chs)