Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya saat menjadi pembicara di acara 'Rakor Lintas Sektor Program Transport-Toursim Stimulus Package' pada Senin (20/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua bandara itu diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisman ke Danau Toba, Bromo-Tengger-Semeru dan Candi Borobudur.
Dalam kesempatan yang sama, Budi Karya juga mengatakan kalau jumlah penumpang pesawat di Jakarta, Yogyakarta dan Semarang semakin meningkat.
Bahkan, sepanjang tahun lalu, tercatat sebanyak 89,3 juta orang menggunakan rute domestik dan 23,4 juta orang menggunakan rute internasional dari bandara di Indonesia.
“Saya minta pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder terkait untuk berkomunikasi dengan baik agar dapat memberikan level of service yang baik. Di awal tahun 2019, semua bandara diharapkan sudah selesai dan semoga tidak ada lagi ‘kemacetan’,” kata Budi Karya.
Melihat perkembangan tersebut, Budi Karya melanjutkan, tidaklah mustahil apabila jumlah kunjungan wisata akan meningkat tahun ini.
Namun, ia meminta seluruh pemerintah daerah agar memaklumi bahwa tidak semua bandara dapat dilayani oleh seluruh maskapai penerbangan.
“Tidak semua daerah harus langsung ke Jakarta atau Bali, karena itu membuat slot penerbangan Jakarta dan Bali berkurang, sehingga slot maskapai asing untuk masuk ke Jakarta dan Bali yang merupakan pintu masuk ke Indonesia menjadi berkurang,” tegas Budi Karya.
“Misalnya dari kota-kota kecil di Kalimantan dihubungkan ke kota besar, baru ke Jakarta atau Bali,” lanjutnya.
Untuk menarik maskapai menerbangi suatu rute, Budi Karya menjelaskan bahwa pihaknya telah memberikan penawaran slot ke maskapai serta memberikan arahan kepada PT Angkasa Pura untuk memberikan stimulus kepada maskapai asing yang baru melayani penerbangan ke Indonesia dengan memberikan landing fee yang gratis.
“Jika hal tersebut sudah dilakukan tapi masih kurang menarik, berarti apa yang kurang menarik? Kotanya atau paket wisatanya?” kata Budi Karya.
(ard)