Melansir AFP, penelitian tersebut dilakukan oleh sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat dan Norwegia serta diterbitkan di mSphere, jurnal the American Society for Microbiology.
Penelitian ini disebut sebagai yang pertama kali menunjukkan respon kekebalan tubuh wanita dapat berdampak bahaya terhadap perkembangan otak janin dan pengaruhnya atas peluang autisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 68 anak-anak di Amerika Serikat mengalami autisme. Autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang berdampak pada kemampuan sosial dan komunikasi.
Pada penelitian terbaru, ilmuwan menguji lima patogen yang sebelumnya terbukti meningkatkan risiko cacat lahir. Patogen tersebut diuji untuk melihat korelasi infeksi pada ibu dengan autisme pada anak.
Patogen tersebut termasuk Toxoplasma gondii, virus rubella, cytomegalovirus, dan virus simpleks herpes tipe 1 juga 2.
Peneliti menguji sampel darah dari 412 ibu dengan anak yang terdiagnosis autisme. Kemudian sampel tersebut dibandingkan dengan darah dari 463 ibu tanpa autisme di Norwegia.
Lihat juga:Waspada, Stres Bisa Picu Serangan Jantung |
Hasil menunjukkan hanya antibodi HSV-2 yang memiliki keterkaitan dengan risiko tinggi autisme. Ini tidak ditemukan pada patogen lainnya.
Risiko tersebut hanya muncul ketika sistem kekebalan tubuh sang ibu melawan infeksi herpes di awal kehamilan. Pada masa itu, sistem saraf pusat janin tengah berkembang pesat.
"Penyebab tunggal atau jamak kebanyakan kasus autisme tidak diketahui," kata penulis senior W Ian Lipkin, direktur the Center for Infection and Immunity di Columbia University Mailman School of Public Health.
"Namun bukti menunjukkan peran untuk kedua faktor baik genetik dan lingkungan. Pekerjaan kami menunjukkan peradangan dan aktivasi daya tahan tubuh dapat berkontribusi pada risiko." (end)