Dalam atraksinya, tarian perang ini dilakukan oleh penari laki-laki yang membawa cambuk dan perisai. Mereka memainkan cambuk yang terbuat dari kulit sapi dengan hentakan yang cepat dan keras.
Torehan luka di badan penari memang terkesan menyeramkan, namun aksi yang mengundang ketegangan ini dilakukan oleh penari ahli dengan standar keamanan yang telah disepakati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tarian yang menegangkan sekaligus menarik ini akan selalu disuguhkan sebagai atraksi bagi wisatawan yang berkunjung ke NTT," kata Agustinus.
Festival Komodo sendiri telah berlangsung sejak 4 Februari sampai 4 Maret 2017.
Tak hanya menyelenggaralan festival sebagai atraksi penarik kedatangan wisatawan, NTT juga menyiapkan segala akses dan amenitas untuk mendukung pengembangan industri pariwisata di kawasannya.
Tarian Caci saat digelar di Festival Komodo 2017. (Dok. Kemenpar) |
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan perbaikan di segala akses, mulai dari budaya sampai air bersih. Target kami, setiap tahunnya selalu ada peningkatan yang signifikan,” ujar Agustinus.
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti mengatakan, pihaknya sangat mendukung usaha pengembangan yang sedang dilakukan NTT, khususnya untuk kawasan Labuan Bajo.
“Perbaikan di segala bidang akan menjadi penentu peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri ke Labuan Bajo,” kata Esthy.
Menurut Esthy, kawasan itu sudah memiliki banyak modal untuk menjadi tujuan wisata baru. Wisata alam di perairan dari Larantuka sampai Labuan Bajo, bahkan pernah disebut sebagai yang terbaik di dunia setelah Raja Ampat dan sebelum Kepulauan Galapagos, versi CNN.
Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap kalau status pelabuhan dan bandara di Labuan Bajo bisa naik kelas menjadi internasional, agar semakin banyak perusahaan transportasi yang mendatangkan wisatawan mancanegara.
“Labuan Bajo harus segera memiliki fasilitas dengan standar dunia,” pungkas Arief.
(ard)
Tarian Caci saat digelar di Festival Komodo 2017. (Dok. Kemenpar)