Pertanian Vertikal Berpotensi Selamatkan Pangan Dunia

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Minggu, 12/03/2017 19:01 WIB
Solusi baru diperlukan untuk mengimbangi kebutuhan pangan dari estimasi pertambahan penduduk yang akan capai 9 milyar di 2050. Jawabannya, pertanian vertikal. Pertanian vertikal menciptakan lahan pertanian dalam bentuk susun seperti layaknya rak lemari. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertambahan penduduk membuat lahan kosong lebih banyak digunakan sebagai tempat tinggal. Ini membuat semakin minimnya tempat untuk bercocok tanam, yang sebenarnya unsur penting dalam mata rantai makanan.

Apalagi populasi penduduk dunia diestimasi akan mencapai 9 milyar jiwa di tahun 2050. Produksi pangan jadi persoalan besar.

Setelah ditantang untuk mencari solusi atas masalah ini, murid-murid professor Dickson D'Despommier yang mengajar di Universitas Columbia New York mengusulkan untuk bercocok tanam di setiap atap gedung kota.


Setelah proses panjang mempelajari peta aerial atau pemetaan lahan dari udara dan mencari tanaman pangan apa yang paling efisien, para mahasiswa mengklaim tanaman di atap hanya bisa memberi makan 2 persen dari populasi penduduk New York pada 2050.

"Mereka sangat kecewa," kata Despoimmer pada The New Yorker.

Despoimmer pun mengusulkan untuk menyusun tanaman dalam rak di lemari es.. Beberapa tahun kemudian, usul itu pun dikenal dengan dia menemukan istilah pertanian vertikal.

Berkat kerja keras para ilmuwan memanipulasi spektrum cahaya agar tanaman tumbuh dengan baik, ribuan lahan pertanian vertikal di Asia dapat panen. Lahan bercocok tanam ini juga mulai banyak di Amerika Serikat dan Inggris.

Pertanian vertikal pun dianggap akan jadi solusi persoalan pasokan pangan seiring dengan meningkatnya populasi penduduk dunia.

Intelligent Growth Solutions di Inggris telah membangun lahan pertanian vertikal senilai 2.5 juta pound di James Hutton Institute yang terletak di Invergowrie dekat Dundee.

"Pertanian vertikal lahir dari tantangan yang dihadapi masyarakat modern," kata kepala eksekutif Intelligent Growth Solutions, Henry Aykroyd seperti dilansir dari Independent.

Solusi baru memang diperlukan untuk mengimbangi kebutuhan pangan. Phillip Davis, ilmuwan dari Stockbridge Technology Centre, telah membantu pertanian vertikal pertama di Inggris.

"Ilmu di balik itu sudah berjalan sejak Darwin melakukan pengukuran cahaya tapi baru 5 atau 6 tahun terakhir, teknologi LED cukup terang untuk menumbuhkan tanaman," katanya.

Tanaman biasanya tumbuh di bawah sinar matahari. Tanaman dapat merasakan perbedaan kualitas cahaya untuk diubah menjadi energi menggunakan reseptor cahaya sebagai mata mereka.

Reseptor cahaya ini hanya "melihat" cahaya biru atau merah. Sekarang teknologi memungkinkan untuk membuat LED mengeluarkan cahaya biru dan merah yang diperlukan tanaman.

Dengan mengganti kulitas cahaya, tanaman dapat tumbuh sesai cara yang diinginkan.

"Anda dapat mengganti seberapa tinggi tanam akan tumbuh, seberapa cepat tanaman tumbuh, dan kapan bunga menggunakan spektrum cahaya," imbuh Davis.

Lampu-lampu LED ini memungkinkan selada atau tanaman pangan lain yang umurnya pendek untuk tumbuh di tempat yang sempit dan tidak ada cahaya alami.

Ahli Biologi, Tom Webster dan partner bisnisnya Kate Hofman mendirikan GrowUp Urban Farms di gudang tanpa jendela di Beckton, timur London. "Idenya, mengembangkan sumber pangan dekat dengan komunitas penggunanya dalam jumlah banyak," kata Webster.

Melalui sebuah panel kontrol yang mengatur jumlah air, limbah dan cahaya, ia bercocok tanaman kacang polong, selada air dan kol tumbuh di atas nampan besi yang ditumpuk di atap.

Di atas nampan besi diletakan alas terbuat dari serat karpet. Pengairan hasil panen didapat dari air tangki ikan di sebelah nampan.

Tim petani dari GrowUp Urban Farms kemudian mengontrol cahaya dan panas untuk mensimulasi malam dan siang.

"Bahkan tanaman suka tidur di malam hari," katanya.

Di belakang setiap rak lahan pertanian vertikal ini, tergantung kantung putih yang menghasilkan udara pendingin. Ini bertujuan untuk melawan panas dan kelembaban yang berkumpul di atas daun.

Sistem bercocok tanaman seperti ini menciptakan efisiensi penggunaan air dibanding cara tradisional. Apalagi, jika rak ini disusun menjadi 10 tingkat. Produksi pun menjadi 10 kali lipat lebih banyak.

Siklus cocok tanam seperti ini mengambil waktu antara 7 hingga 21 hari. Setidaknya, tiap bulan ada panen, tidak tergantung pada cuaca atau pun musim. Sistem pertanian seperti ini juga membuat harga sayuran stabil.

Untuk panen jenis sayuran dari kecambah dan herbal, kemasan untuk didistribusikan tidak perlu lagi kantung plastik. Cukup kotak kardus yang memperpanjang umur sayuran.

Sayuran seperti ini sudah mulai digunakan dalam penyajian food platting di banyak restoran di Inggris. GrowUp berharap cara bercocok tanaman seperti ini dapat mencukupi kebutuhan pangan satu kota.