Jika Tak Dijaga, Raja Ampat Hanya Bisa Dinikmati Melalui Foto

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Rabu, 15/03/2017 16:17 WIB
Aktivitas kapal pesiar bukan cuma penyebab rusaknya terumbu karang. Pemanasan global dan perilaku menyelam yang kurang tepat juga bisa menyumbang bencana. Jernihnya perairan di Raja Ampat, sehingga gugusan terumbu karang sudah bisa dilihat dari daratan. (CNN Indonesia/Rinaldy Sofwan Fakhrana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Akhir pekan kemarin, dunia dibuat geger, setelah muncul berita rusaknya gugusan terumbu karang di Raja Ampat, Papua Barat, yang disebabkan oleh aktivitas kapal pesiar Caledonian Sky yang berlayar di perairan yang terlalu dangkal.

Tentu saja, masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta kegiatan menyelam, sangat bersedih atas peristiwa tersebut.

Salah satunya ialah Ricky Virgana, pemetik bass dari band indie asal Jakarta, White Shoes and the Couples Company.


Saat dihubungi pada Rabu (15/3), pria yang beberapa kali menulis pengalaman menyelamnya di CNNIndonesia.com ini mengatakan kalau keindahan bawah laut Raja Ampat tidak akan pernah terganti, meski banyak tempat menyelam lain yang juga tidak kalah cantik di Tanah Air, seperti Banda Naira, Togean, Bolsel, Weh dan Alor.

“Saya sangat kesal begitu membaca berita rusaknya terumbu karang Raja Ampat. Selama ini, kawasan itu memang dijaga betul dari kegiatan yang bakal memicu kerusakan, seperti memancing. Eh, tapi malah rusak begitu saja oleh kapal pesiar asing,” kata Ricky.

“Logikanya saja, butuh waktu bertahun-tahun untuk terumbu karang tumbuh berkembang per sentimeternya. Jadi, walau ada tanggung jawab dari pelaku, pemulihannya akan sangat lama,” lanjutnya.

Ricky mendapat kesempatan snorkeling di Raja Ampat pada tahun 2012. Ketika ditanya seperti apa keindahan di bawah lautnya, ia mengaku sulit menjelaskannya.

Baginya, foto atau video mengenai kecantikan Raja Ampat yang bisa dilihat dengan mudah di dunia maya “masih belum ada apa-apanya.” Tapi, jika tidak dijaga, kemungkinan besar generasi muda di masa depan hanya akan bisa melihat keindahan tersebut melalui dokumentasi.

“Duh, susah ya menggambarkannya. Saat snorkeling saja pemandangan bawah lautnya sudah terlihat indah. Bakal lebih indah lagi kalau melihatnya sambil diving,” ujar Ricky.

“Menyelam merupakan kegiatan perenungan diri. Jadi saat melihat sesuatu yang indah, kita hanya bisa berbicara dengan diri kita sendiri. Itulah yang membuat banyak penyelam sedih kalau ada kawasan perairan yang rusak atau tercemar,” lanjutnya.

Menyelam bukan hanya asal menceburkan diri ke laut. Selain harus menjaga keselamatan diri, juga harus menjaga keselamatan makhluk hidup di perairannya, Ibaratnya kan kita sedang bertamu ke rumah mereka."Ricky Virgana
Aktivitas kapal pesiar bukan satu-satunya penyebab rusaknya terumbu karang. Seperti yang diketahui sebelumnya, gugusan terumbu karang di Great Barrier Reef, Belize, dan Sekiseishoko, juga telah rusak akibat pemanasan global.

Selain itu, ternyata kerusakan terumbu karang juga bisa disebabkan oleh perilaku penyelamnya.

“Menyelam bukan hanya asal menceburkan diri ke laut. Selain harus menjaga keselamatan diri, juga harus menjaga keselamatan makhluk hidup di perairannya, Ibaratnya kan kita sedang bertamu ke rumah mereka,” kata Ricky.

“Ada beberapa hal yang harus dipatuhi penyelam, hal tersebut biasanya diberi tahu di sekolah menyelam. Salah satunya ialah dilarang melakukan gerakan berenang yang bisa menyenggol terumbu karang, karena itu akan merusak ekosistem mereka,” lanjutnya.

Ricky menutup perbincangan dengan menambahkan bahwa ekosistem terumbu karang perlu dijaga, karena menjadi rumah bagi seluruh makhluk makhluk hidup di bawah laut.

Sederhanya, jika terumbu karang sudah rusak, maka ikan-ikan yang biasa mencari makan di sekitarnya akan menghilang. Kondisi ini tentu saja akan merugikan suatu kawasan, apalagi yang menggantungkan perekonomiannya dari wisata perairan, seperti Raja Ampat.

Kapal Caledonian Sky yang berbobot 4.290 ton itu membawa 102 penumpang dan 79 awak pada perjalanan selama 16 malam dari Papua Nugini ke Filipina. Kapal itu diduga merusak sekitar 1.600 meter persegi karang di titik menyelam yang dikenal sebagai Crossover Reef.

Insiden itu mengakibatkan kehancuran habitat struktural ekosistem dan pengurangan atau hilangnya keragaman delapan spesies karang, termasuk Acropora, Porites, Montipora, dan Stylophora.

Pada Rabu (15/3), pemerintah Indonesia mengatakan siap menggugat pelaku perusakan terumbu karang yang masuk dalam daftar ’11 of the World’s Best Snorkeling Destinations’ versi CNN itu.

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK