Kelamnya Suasana Rumah Sakit Kanker Anak Di Damaskus, Syria

REUTERS/Omar Sanadiki , CNN Indonesia | Minggu, 19/03/2017 08:45 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Sanksi negara Barat yang melarang pabrik farmasi mereka mengimpor obat-obatan ke Syria ternyata secara tidak langsung pengaruhi penderita kanker anak di Syria.

<p>Para suster sibuk merawat seorang anak yang menderita kanker di Rumah Sakit Anak Damaskus, Syria. Dokter kesulitan mengobati karena kurangnya obat-obat khusus untuk penyakit yang diidap pasien-pasien kecil mereka. (REUTERS/Omar Sanadiki)</p>
<p>Suasana kelam dalam rumah sakit anak-anak Syria terlihat di salah satu sudut ruangan. WHO membawa obat dan suplai medis ke Syria. Obat-obat ini kebanyakan obat generik dari Eropa, Afrika Utara dan Asia. (REUTERS/Omar Sanadiki)</p>
<p>Kontainer yang berisikan obat kanker yang siap digunakan didistribusikan oleh Basma, yayasan amal yang mendanai obat kanker untuk keluarga miskin di Syria. (REUTERS/Omar Sanadiki) </p>
<p>Selain obat kanker, rumah sakit di Syria juga mengalami kekurangan insulin, obat bius, antibiotik khusus untuk perawatan intensif, infus, vaksin dan produk darah lainnya. (REUTERS/Omar Sanadiki)</p>
<p>Kolapsnya sistem kesehatan di Syria mempengaruhi ekspektansi umur penduduk Syria menjadi 60 tahun untuk pria, 70 tahun untuk wanita di tahun 2014. Sementara tahun 2009, 72 dan 75 tahun. Hanya 44 persen rumah sakit yang melayani unit lengkat. Seperempatnya, malah sudah tidak beroperasi lagi. (REUTERS/Omar Sanadiki)</p>
<p>Rahma, seorang gadis Syria, bermain dengan telepon gengamnya di tempat tidur sambil menjalani pengobatan untuk penyakit kankernya. (REUTERS/Omar Sanadiki)</p>
<p>Seorang suster memberi makan seoran bayi yang sedang menjalani tes kanker, sementara pasien anak lainnya duduk di kursi menunggu gilirannya untuk menerima pengobatan kankernya. (REUTERS/Omar Sanadiki)</p>
<p>Orang tua yang mengantar anaknya berobat di Rumah Sakit Anak Damaskus harus sabar mengantri gilirannya untuk menjalani perawatan. (REUTERS/Omar Sanadiki)</p>