Dalam peragaan busana tunggalnya yang diberi tajuk The Art of Heritage Culture, Tina membuat rancangan busana yang memadukan batik klasik dan batik modern.
"Inspirasinya bagaimana saya memikirkan untuk wanita yang oversize, jadi bukan lagi kepada yang pas badan. Dulu 'kan main pas badan tapi saya lihat dari kepentingan ternyata ibu-ibu itu memerlukan perhatian," ujarnya kepada CNNIndonesia.com di sela-sela peragaan busana yang berlangsung di Gran Hotel Mahakam, Jakarta Selatan, Kamis (27/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia mengaku, dirinya harus bisa menjalani tantangan untuk mengkreasikan batik menjadi gaun yang cantik. Maka itu, dia pun mengemasnya menjadi lima mode yaitu cocktail dress, semi formal dress, formal dress, kebaya dan evening dress.
"Sesuai tema The Art of Heritage Culture, kami mengelola benda atau sejarah yang sudah ada, kalau kami olah dengan daya kreatifitas dan inovasi yang baru kain akan jadi hidup. Dengan jiwa yang baru akan lebih dinamis," tuturnya.
Tina mengatakan, batik cocktail menampilkan gaun sack dress simple chic yang dapat digunakan untuk segala acara. Potongan busana yang ditampilkan tanpa lengan, halter dan long capsleeve dengan warna peach, merah dan krim.
Peragaan busana The Art of Heritage Culture karya Tina Andrean. (Foto: CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor) |
Sedangkan batik formal merupakan jaket oversize. Jaket itu dapat dipadukan dengan celana panjang atau sack dress. Selain itu, terdapat juga tempelan payet dan manik-manik.
Tina juga membuat gaun batik untuk pesta yang ditampilkan dengan potongan leher seperti halter neck, off shoulder, asimetris. Dalam peragaan kali ini, ia juga menggunakan batik prada, batik tulis crepe, batik sutera baron dan batik tulis halus. (rah)
Peragaan busana The Art of Heritage Culture karya Tina Andrean. (Foto: CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)