“Wisata paus sangat menjanjikan di masa depan, namun belum banyak dikembangkan di perairan Indonesia,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu di Kupang, dikutip dari Antara, Senin (8/5).
Marius mencatat, setidaknya ada tiga kawasan Laut Sawu yang kerap menjadi titik migrasi kawanan paus dan lumba-lumba, yaitu Solor-Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, Ile Ape-Lamalera di Kabupaten Lembata dan Paket Alor-Pantar di Kabupaten Alor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih dari survei yang sama, TNP menyebut wisata maritim dengan daya tarik utama paus dan lumba-lumba telah dikembangkan di 90 negara yang setiap tahun bisa menyerok keuntungan sampai Rp1,4 triliun.
Di Indonesia, aktivitas itu relatif baru meskipun sebenarnya bisa dikembangkan di wilayah-wilayah seperti Sunda Kecil, Laut Banda dan Raja Ampat.
"Di Laut Sawu, paus berkembang biak sehingga cocok dikembangkan jadi wisata menonton paus," katanya. (ard)