Menikmati De Wallen, Bekas Lokalisasi Legendaris di Amsterdam

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Senin, 22/05/2017 10:39 WIB
Menikmati De Wallen, Bekas Lokalisasi Legendaris di Amsterdam Di daerah De Wallen, semua jenis hiburan bagi pria dan wanita hidung belang kini sudah dibersihkan melalui Proyek 1012 yang digagas Wali Kota Job Cohen. (AFP PHOTO / ANP / KOEN VAN WEEL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ratusan tahun, kota Amsterdam di Belanda menyimpan daya tarik wisata malam bernama Red Light District (RLD).

Di daerah bernama De Wallen, semua jenis hiburan bagi pria dan wanita hidung belang disajikan secara legal. Mulai dari prostitusi, toko alat bantu seks dan video porno, sampai hotel 'esek-esek'.

Kawasan RLD bahkan secara terang-terangan dijual oleh agen perjalanan wisata dalam suatu paket bagi para turis, khususnya yang berasal dari luar Belanda. Wisata prostitusi telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis yang berlibur ke Amsterdam.


Namun, dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Kota Amsterdam memutuskan untuk mengubah citra negatif tersebut. Dimulai pada 2008, saat Wali Kota Amsterdam Job Cohen meluncurkan proyek 1012, yang merupakan kode pos daerah De Wallen.

Proyek tersebut bertujuan untuk mengubah citra Amsterdam dari kota lokalisasi pekerja seks komersial (PSK) terbesar di Belanda menjadi kota kreatif. Menyadari tingkat kesulitan yang tinggi dalam menjalankan program tersebut, Cohen menetapkan waktu minimal 10 tahun untuk bisa mengubah daya tarik wisata Amsterdam.

Aksi penggusuran wisata 'esek-esek' yang dilakukan Cohen, mengingatkan kita pada keberanian Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya yang menutup lokalisasi Gang Dolly pada 19 Juni 2014 silam. Konon, Dolly sudah tersohor sebagai lokalisasi PSK terbesar se-Asia Tenggara sebelum ditutup paksa oleh Risma.

"Di Amsterdam, sudah tidak bisa kita lihat lagi rumah bordil atau kedai kopi yang menyediakan ganja bagi pelanggannya," tulis Katja Brokke untuk CNN, dikutip Senin (22/5).

Brokke melaporkan, ratusan PSK yang menjadi penghuni toko-toko di RLD digantikan oleh seniman dengan berbagai keahlian mulai dari melukis, patung, dan toko pakaian jadi. Beberapa restoran dan kedai kopi juga nampak bermunculan di distrik tersebut.

Namun, program Wali Kota Cohen belum berhasil menutup seluruh rumah bordil di RLD. Brokke mencatat dari sekitar 470 rumah bordil yang ada di sana, baru 150 yang berhasil ditutup.

Pemerintah Kota Amsterdam juga memutuskan mempertahankan museum seks sebagai bagian dari sejarah RLD.

"Sebagai warga lokal yang lahir dan dibesarkan di Amsterdam, RLD telah menjadi lokasi yang menarik bagi saya untuk bersantai. Namun kini karakter kerasnya telah pudar, berganti dengan bar, restoran, dan toko pakaian yang lebih bersih," tulis Brokke.

Ia pun merekomendasikan beberapa tempat menarik untuk menyesap nikmatnya kopi, bersantap, dan menikmati hiburan lain di RLD yang telah berganti wajah.

Diantaranya De Koffieschenkerij, Quartier Putain, dan Koko Coffee & Design untuk berbincang sambil minum kopi.

Kemudian ada Cut Throat Barber Brunch & Bar, De Prael, dan Porem sebagai bar tempat untuk minum bir dan menikmati berbagai jenis minuman beralkohol lainnya.

Sementara untuk bersantap, Brokke merekomendasikan Dum Dum Palace, Mata Hari, serta Cannibale Royale dimana wisatawan bisa menikmati steak, makanan khas Belanda, sampai masakan Asia.

Terakhir untuk berbelanja, ia merekomendasikan toko Ivy & Bros, Anna + Nina, dan TonTon Club yang bermunculan di bekas area lokalisasi legendaris RLD di kotanya.


ARTIKEL TERKAIT