Ungkapan Haru Ibu Korban Tragedi Bom Konser Ariana Grande

Ferdy Thaeras, CNN Indonesia | Rabu, 24/05/2017 11:32 WIB
Ungkapan Haru Ibu Korban Tragedi Bom Konser Ariana Grande Ilustrasi. (Foto: Courtesy of Aghnia Adzkia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para anak hingga remaja tentu antusias ketika mendengar salah satu musisi favoritnya menggelar konser. Meskipun terbilang belum cukup umur, pasti banyak anak-anak hingga remaja meminta izin orangtuanya untuk menyaksikan idolanya beraksi di atas panggung.

Namun siapa sangka, izin menonton konser tersebut menjadi izin terakhir untuk sang orangtua dari sang anak untuk meninggalkan dunia fana ini. Niat ingin bersenandung dan berdansa sambil melantunkan lagu favorit di tempat konser pun berubah menjadi peristirahatan terakhir.

Sebagai orangtua, hal ini tak terbayangkan kepedihannya. Bahkan sang musisi sendiri, Ariana Grande tidak bisa berkata apa-apa saat angkat bicara pertama kali pasca insiden pengeboman konsernya di Manchester Arena selain ucapan maaf.


22 orang meninggal dunia dan 119 orang luka-luka akibat aksi terorisme bunuh diri. 59 orang harus dirawat di rumah sakit dan 12 di antaranya anak-anak.

Setelah diselidiki oleh kepolisian setempat, aksi ini dilakukan oleh seorang remaja lelaki berusia 22 tahun bernama Salman Ramadan Abedi, seperti dilansir dari The Guardian. ISIS pun mengklaim hal ini adalah aksi keterlibatannya.

Salah satu korban yang telah dikonfirmasi meninggal dunia adalah Olivia Campbell. Sang ibu, Charlotte, mengkonfirmasi putrinya yang berusia 15 tahun tersebut memang telah tiada pasca insiden saat promo album Ariana Grande berjudul ‘Dangerous Women’.

Ia pun mengunggah dukanya kehilangan putrinya yang sangat menyayat hati.

“RIP putri tersayangku yang berharga dan cantik Olivia Campbell, dipanggil terlalu cepat untuk bernyanyi bersama para malaikat di atas sana dan tetaplah tersenyum, ibu sangat mencintaimu.”

Saat mendengar berita insiden itu, ia mencoba menghubungi semua rumah sakit, namun tidak ada catatan tentang putrinya. Ia juga dengan cemas menanti kabar dari polisi ataupun hotel-hotel di dekat lokasi konser.

Pikiran terburuk sudah menghantuinya, bahwa putrinya sudah ada di sebuah rumah sakit namun tidak ada yang bisa mengenalinya. “Atau mungkin ia sudah meninggal. Tapi yang menyedihkan aku tidak tahu apa-apa,” ungkapnya sambil menangis dalam sebuah wawancara televisi.

Lain halnya dengan para ibu, Alison Howe dan Lisa Lees, keduanya setia menanti putrinya selesai menonton konser di luar Manchester Arena. Namun nasib berkata lain, mereka juga menjadi korban pengeboman dan telah dikonfirmasi oleh keluarga telah tiada.

Pihak keluarga pun mengunggah dukanya di Facebook, “Mereka mengambil ibu yang penyayang dan cantik dari kami. Ia sangat menakjubkan bagi kami semua x penuh cinta.”

Korban paling kecil dari tragedi ini ternyata berusia delapan tahun, Saffie Rose Roussos. Sang ibu, Lisa hingga kini belum tahu bahwa putri kecilnya sudah tiada lantaran ia sendiri masih dalam perawatan intensif di rumah sakit dan dalam keadaan tidak sadar. Saat bom meledak, Lisa dan putrinya Saffie terpisahkan. 

Tak hanya para ibu, adapula sosok paman, John Atkinson yang berusaha menyelamatkan keponakannya dengan menjadi perisai tubuh. Pihak keluarga mengunggah fotonya bersama sang keponakan dengan tulisan ’pergi penuh duka dan tak akan pernah terlupakan.’

Menyikapi hal ini, sekolah-sekolah tempat para korban bersekolah melakukan upacara penghormatan dan beberapa dari mereka memberikan donasi dan simpati kepada pihak keluarga. Kepala sekolah Tarleton Community Primary School tempat korban bernama Saffie bersekolah pun menyatakan dukanya. 

“Kenyataan bahwa seseorang pergi menonton konser dan tak akan pulang selamanya sungguh menyayat hati.”