Kisah Waria dan Pesantren Al-Fatah Yogyakarta

Hesti Rika Pratiwi, CNN Indonesia | Kamis, 08/06/2017 14:50 WIB

Yogyakarta, CNN Indonesia -- Di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta, hidup Sinta Ratri dan waria lainnya berwarna. Ketika beribadah, mereka bebas memilih sarung atau menggunakan mukena.

Namanya Wisnu (26), tapi ia akrab dipanggil Bella. Ia adalah salah satu santri di Pesantren Waria Al Fatah. Wisnu pernah melarikan diri dari rumah dan juga pernah menjadi PSK di seputaran jalan Pasar Kembang Yogyakarta. Wisnu berharap suatu saat ia kembali menjadi laki-laki. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Di Pesantren Al-Fatah, Wisnu tergabung bersama 19 santri waria lainnya. Mereka berbeda-beda ketika beribadah, ada yang mengenakan mukena dan ada yang memilih sarung ketika salat. Semua tergantung pada kenyamanan masing-masing. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Wisnu Setiawan atau yang biasa dipanggil Inul mengikuti Pesantren Waria Al Fatah pada 2016 ketika menerima ajakan dari salah seorang pengurus. Setelah mengikuti pesantren selama setahun, Inul menyebut dirinya lebih mengerti membedakan yang baik dan buruk karena mengikuti pengajian setiap minggunya. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Aktivitas keseharian Inul saat ini menjadi pengamen di sekitaran Malioboro Yogyakarta. Keluarga Inul menerima dirinya menjadi waria dengan catatan tidak melakukan tindakan kriminal. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Suyatno (52) atau yang biasa dipanggil Ninik sudah mengikuti Pesantren Waria Al-Fatah dari awal berdiri pada 2006 silam. Semula menganut Katolik, Suyatno memutuskan jadi mualaf setelah masuk Pesantren Al Fatah. Sehari-harinya Suyatno menjadi koki. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Awal mula berdirinya Pesantren Al-Fatah berawal ketika waria di Yogjakarta mengadakan pengajian untuk mendoakan korban gempa bumi 2006. Pengajian tersebut berlanjut menjadi pengajian rutin setiap minggu sehingga berdiri lah Pesantren Waria Al-Fatah hingga saat ini. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Pareta Arianto (55) atau yang biasa dipanggil Ririn adalah seorang waria yg keseharianya bekerja di salon menjadi tukang rias. Ririn sempat berkuliah di jurusan teknik IKIP (Universitas Negeri Yogyakarta saat ini), akan tetapi memutuskan tidak melanjutkan kuliah pada semester 5. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Sama seperti Ninik, Ririn bergabung di Pesantren Al-Fatah mulai dari sejak awal berdirinya pesantren tersebut. Ririn merasa dirinya sudah menjadi perempuan seutuhnya dan selalu menggunakan kerudung dalam keseharian. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Nur Handoko adalah salah seorang pengurus Pesantren Al-Fatah. Nur seringkali menjadi pengamen di jalanan untuk bertemu waria pengamen lainnya dan mengajak mereka bergabung di pesantren. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Di Pesantren Al-Fatah, Nur bersama waria lain belajar mengaji, mengkaji kedudukan waria di dalam Islam, memandang masa depan positif, serta mencari cara berdamai dan menerima diri sendiri sebagai waria. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Sinta Ratri adalah pengurus Pesantren Al-Fatah sejak 2014. Ia menggantikan peran Maryani--pendiri pesantren--yang meninggal dunia pada 2014 lalu untuk membuat struktur pembelajaran di dalam pesantren untuk para waria. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Sinta Ratri merasa terjebak dalam tubuh laki-laki ketika ia lulus SMA. Setelah itu Sinta memutuskan menjalani hidupnya sebagai waria. Sinta juga pernah menikah dua kali, tapi pada akhirnya memutuskan untuk berpisah. Selain mengurus Pesantren, Sinta juga membuat kerajinan perunggu. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Amri (59) atau yang biasa dipanggil Yeti merupakan pengurus LSM Kebaya (Keluarga besar waria Yogyakarta) yang bergerak pada bidang penyuluhan penyakit AIDS. Sebelum bergabung di LSM, Yeti pernah hidup di jalanan sebagai PSK, tapi kemudian memilih mendekatkan diri dengan Tuhan seiring bertambahnya usia. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Meski berlindung di dalam Pesantren, hidup para waria di Jogjakarta tak sepenuhnya tenang. Bahkan tekanan dari pihak ormas pernah membuat pesantren ditutup beberapa bulan pada 2016 silam dan menimbulkan trauma pada santri waria. Perlahan-lahan Pesantren Al-Fatah pulih dan hingga kini tetap berdiri. (CNN Indonesia/Hesti Rika)


ARTIKEL TERKAIT