Ungkapan itu disampaikan dokter bedah plastik Danu Mahandaru, dari The Clinic (Beautylosophy) saat ditemui di Jakarta akhir pekan lalu. Menurutnya, kenaikan jumlah peminat untuk mempercantik diri itu justru didominasi oleh masyarakat non-muslim.
"Mereka ingin tampil beda, istilahnya itu manglingi setelah liburan," ujar dokter Danu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk treatment yang banyak diminati, kata Danu, ada filler, botox, tanam benang, laser dan pelangsingan untuk non-bedah. Sedangkan untuk tindakan bedah, yang paling banyak dilakukan adalah operasi hidung, payudara dan mata.
"Kenaikan (jumlah pasien) cukup signifikan, sekitar 50-100 persen," kata dokter yang sempat mengambil pelatihan di Korea dan Taiwan ini.
Namun ia menyayangkan, pasien mendapat treatment sesuai kompetensi dokter atau klinik yang ia tuju, bukan karena kebutuhan dari pasien itu sendiri.
"Misalnya, masalah seperti garis senyum. Kalau pasien ke dokter bedah plastik, ia akan di-facelift. Sementara, kalau dia ke dokter estetika, ia di-filler. Dipasang kawat, kalau pergi ke dokter gigi. Pasien dapat yang terbaik menurut klinik, bukan menurut pasien," jelasnya.
Lihat juga:Alasan Pria Kini Tertarik untuk Suntik Botox |
Menurutnya, dokter seharusnya bisa memilah mana treatmet yang terbaik untuk pasien sesuai permasalahannya.
Tiap terapi punya kelebihan dan kekurangan. Dokter Danu mengatakan, kemunculan berbagai treatment hingga ada yang mutakhir bukan untuk persaingan, tapi justru melengkapi satu sama lain.
"Tiap treatment punya masing-masing pasar. Misalnya, kasus pasien ingin mancungin hidung. Filler hasilnya akan lebih superior jika di bagian bridge (bagian hidung yang berada antara mata). Namun jika pasien ini hidungnya agak lebar, bagian bawah besar, ini perlu operasi baik dengan implan maupun tulang rawan," jelas dokter Danu. (rah)