Geliat Tenun untuk Mendunia Tak Kalah dengan Batik

Gloria Safira Taylor , CNN Indonesia | Sabtu, 17/06/2017 13:25 WIB
Geliat Tenun untuk Mendunia Tak Kalah dengan Batik Foto: Dok. Wignyo Rahadi
Jakarta, CNN Indonesia -- Tenun merupakan salah satu bentuk ekonomi kreatif di beberapa daerah di Indonesia seperti Nusa Tenggara Barat, Jawa (Baduy dan Jepara) hingga Sumatera (songket).

"Tenun biasanya sudah ada di satu daerah dan merupakan warisan turun-temurun. Itu sebabnya ciri khas tenun masing-masing daerah punya motif berbeda," ujar Mia Ariyana, Direktur Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil kepada CNNIndonesia.com di acara acara serah terima strategy paper untuk tenun tradisional ramah lingkungan Hivos (31/5).

Kepopuleran kearifan lokal ini tidak hanya menarik perhatian pecinta fesyen negeri sendiri, tetapi juga dunia barat. Dikemas dalam berbagai produk yang lebih modern dan sesuai kebutuhan pasar, geliat tenun di kancah internasional tak mau kalah dengan batik.


Perdagangan kain tenun kini semakin ramai hingga menembus pasar global. Menurut data Kementerian Perindustrian nilai ekspor kain tenun pada 2015 mencapai $2,6 juta, dengan tujuan utama ekspor ke Eropa.

Dan, menurut data dari Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, kain tenun sudah memasuki pasar Eropa sejak tiga tahun lalu. Kain tenun Sulawesi Utara mulai dijual di Perancis dan Belanda. Dan, tak ketinggalan, kain tenun ikat asal Nusa Tenggara Timur yang merambah ke banyak negara Eropa.

Dalam data yang dikumpulkan oleh HiVos, beberapa daerah giat menenun menggunakan pewarna alami dan berhasil mengekspor kain mereka ke Eropa. Beberapa daerah ini termasuk Kabupaten Jembrana di Bali, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah bagian utara dan Jawa Tengah bagian selatan.

Kepopuleran tenun juga tidak bisa bertumpu dari usaha pengrajin sendiri. Berbagai kanal promosi dilakukan oleh badan pemerintah, swasta maupun asing.

Perancang busana sebagai motor penggerak

Yang tak kalah perannya adalah para perancang yang menjadi motor penggeraknya. Kain tenun diaplikasi dalam berbagai macam bentuk rancangan yang mengemas kain tenun terlihat modern dan menarik.

Perancang Chossy Latu, Auguste Soesastro, Didi Budiarjo dan Denny Wirawan adalah contoh beberapa perancang yang mengangkat tenun pada rancangan mereka saat berjalan di berbagai panggung catwalk di Paris.


Konsistensi perancang menggarap tenun juga membuka peluang tenun melanglang buana. Contohnya terjadi pada Didiet Maulana, yang dipilih label Tumi untuk merancang tote bag edisi khusus. Ada tujuh perancang dari berbagai negara di Asia yang dipercaya untuk merancang dan Didiet dipercaya sebagai wakil Indonesia.

Didiet boleh mengatakan ia tidak mengetahui kriterianya apa, tetapi, yang pasti konsistensinya yang mengangkat tenun ikat dari NTB yang ia tekuni sejak tahun 2009 ini bukan tidak mungkin jadi salah satu alasan mengapa ia dipercaya Tumi.
Geliat Tenun untuk Mendunia Tak Kalah dengan BatikFoto: Dok. Didiet Maulana

Tas bermotif tenun ini pun semakin mendunia ketika tote bag ini menjadi hadiah bagi para pemenang Grammy Awards 2016.

“Baru-baru ini saya bertemu dengan orang Tumi lagi. Mereka memberi kabar kepada saya jika tote bag yang paling laku dan mereka tidak menutup kemungkinan untuk dapat bekerja sama lagi,” terang Didiet saat ditemui CNNIndonesia.com di butiknya (16/6)

Tembus London Lewat Ajang Program Pertukaran Perancang

Salah satu upaya untuk menembus Eropa adalah dengan adanya program pertukaran perancang. Setidaknya, tenun sempat merebut perhatian warga London ketika akhirnya bisa tampil di London Fashion Week.

Hal ini dialami oleh perancang Amanda Indah Lestari yang merupakan direktur kreatif label baju dari bahan tenun Baduy, Lekat.
Geliat Tenun untuk Mendunia Tak Kalah dengan BatikFoto: Dok. Lekat

Melalui jalur pertukaran antara perancang dari Jakarta Fashion Week, ia bisa mempromosikan hasil rancangannyaa di London Fashion Week (LFW) 20 Februari yang lalu.

“Saya ikut program Indonesia Fashion Forward dari British Council generasi ke-empat. Setelah berkolaborasi dengan perancang Inggris, Billy Jacobina, dan hasilnya dipertunjukkan di Jakarta Fashion Week, kita berpikir bagaimana caranya kolaborasi ini bisa juga tampil di London Fashion Week. Lewat partner British Council itulah, saya akhirnya bisa berpartisipasi di sana,” terang Mandy, sapaan akrabnya.

Di LFW, ada dua acara yang diikuti Mandy, yaitu International Fashion Showcase dimana ia memperagakan rancangannya bersama dengan 26 perancang internasional lainnya, dan Fashion Scout dimana ia mempresentasikan 24 koleksi bajunya.

Tembus Jepang melalui program CSR perusahaan asing

Desainer Wignyo Rahadi bisa melakukan promosi baju rancangannya yang menggunakan bahan tenun Tanimbar berkat program investasi sosial (CSR) perusahaan minyak dan gas Jepang (INPEX), yang beroperasi di Tanimbar.


“Saat melakukan promosi di Jepang, respon yang paling responsif datang dari pengunjung Jepang sendiri. Kedua, dari India dan Pakistan. Ketiga ini yang terlihat menunjukkan minat antusias mereka terhadap tenun Tanimbar dari Indonesia,” terang Wignyo saat ditemui CNNIndonesia di butiknya yang terletak di daerah Cipete.

Dijelaskan lebih lanjut jika pengunjung kagum dengan teknik tenun Indonesia karena pada waktu itu yang Wignyo angkat memang tenun songket.

“Mereka kagum melihat teknik songket kita karena hasilnya motif terlihat seperti tiga dimensi. Mereka tidak punya teknik tenun seperti itu. Jadi, mereka sangat appreciate,” tambahnya.
Geliat Tenun untuk Mendunia Tak Kalah dengan BatikFoto: Dok. Wignyo Rahadi
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Pesona Tenun Inspirasi Lebaran