Alasan Mengapa Selalu Ada Banyak Makanan Saat Lebaran

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Selasa, 27/06/2017 11:16 WIB
Alasan Mengapa Selalu Ada Banyak Makanan Saat Lebaran Ketupat dan berbagai hidangannya menjadi salah satu wujud kebhinekaan Indonesia. (Thinkstock/yuliang11)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Ayo sini duduk sambil cobain kue,” tutur Tuti (55), salah satu warga Jakarta yang merayakan Lebaran seraya melambaikan tangan lalu berjalan menuju ruang tamu.

Di sana ada meja yang diselimuti taplak abu-abu. Meja itu harum berkat vas berisi bunga sedap malam. Di atas meja beberapa toples transparan berisi kue kering yang berbeda-beda terlihat mengundang selera.

Aneka kue kering menjadi salah satu hidangan wajid saat LebaranAneka kue kering menjadi salah satu hidangan wajid saat Lebaran (ali_cruse/Pixabay)

“Ini kastengel, ini nastar. Kue salju juga ada. Pokoknya banyaklah. Ayo cobain,” kata Tuti kepada CNNIndonesia.com.


Ada beberapa kue atau hidangan yang belum sempat disebutkan Tuti, antara lain kue kacang, kue semprit, dodol cina, kacang mete, dan kacang goreng.

Belum selesai mencicipi semua kue, Tuti sudah menawarkan hidangan lain, yaitu ketupat beserta makanan pendampingnya. Dia membuat rendang, opor ayam, semur daging, sayur pepaya, dan sambal goreng ati. Tak lupa emping, kerupuk udang, dan bawang goreng.

“Dari dulu memang masak sebanyak ini kalau Lebaran. Jadi enggak usah heran, ya,” katanya sembari membuka tudung saji di meja makan.


Ragam sajian yang dihidangkan Tuti merupakan hidangan ikonik yang biasa ditemui saat Lebaran. Lebaran memang bukan hari biasa, di hari istimewa tersebut, biasanya makanan yang disajikan pun berlimpah. Bukan hanya satu atau dua, saat Lebaran, ragam makanan yang disajikan pasti lebih bervariasi dan banyak. Bukan untuk foya-foya, melainkan untuk menyambut tamu yang datang untuk bersilaturahmi.

Tuti hanyalah salah satu warga muslim Jakarta yang menyediakan banyak makanan untuk tamu yang hadir ke rumahnya. Warga lain yang tak mudik Lebaran pun memasak berbagai hidangan khas di rumahnya.

Menurut sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, budaya menyajikan beragam hidangan saat hari raya seperti Lebaran mulai dilakukan sejak awal abad 20. Kala itu, tutur Fadly, masyarakat pribumi dan orang Eropa saling memberi makanan jika salah satu dari mereka merayakan hari raya.

ketupat gulai paku menjadi salah satu hidangan khas Padang yang nikmatketupat gulai paku menjadi salah satu hidangan khas Padang yang nikmat (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami).

Misalnya, saat hari raya Idulfitri, orang Eropa memberikan kue-kue kering seperti kastangel dan nastar kepada pribumi yang merayakan. Demikian pula sebaliknya, saat Hari Natal tiba, warga pribumi mengirim aneka hidangan kepada orang-orang keturunan Eropa.

Pembauran budaya dalam aspek kuliner tidak hanya terjadi antara kaum pribumi Indonesia dengan orang Eropa saja, tetapi juga dengan peranakan Tionghoa. Fadly menjelaskan, ada beberapa makanan pribumi yang pengolahannya mengadopsi budaya peranakan Tionghoa.

“Mereka juga saling berbagi resep. Mempelajari resep-resep dari orang Eropa dan orang Tionghoa,” kata Fadly kepada CNNIndonesia.com, Minggu (25/6).


“Manisan dan asinan itu tidak lepas dari budaya Tionghoa dalam pengolahan proses mengasinkan atau memaniskannya,” kata Fadly.

Sebaliknya, peranakan Tionghoa pun mengadopsi dodol, yang merupakan kuliner khas pribumi, sebagai makanan khas saat perayaan Imlek. Menurut Fadly, secara tidak langsung peranakan Tionghoa juga membantu mengenalkan dodol kepada khalayak luas.

Ketupat dan Gulai

Selain dengan rendang dan opor, masyarakat Indonesia juga kerap memadukan ketupat dengan gulai atau kari saat Lebaran.

Menurut Fadly, perpaduan antara ketupat dengan gulai dan kari juga termasuk ciri khas Lebaran di Indonesia. Bahkan tidak dapat ditemui di Timur Tengah pada hari raya Idulfitri.

Kombinasi ketupat dengan gulai dan kari ini juga menjadi sebuah kolaborasi kuliner dari beberapa negara.


Ketupat merupakan makanan khas Asia Tenggara, Indonesia khususnya. Sedangkan gulai dan kari sendiri merupakan hasil serapan budaya dari Arab dan India.

“Perpaduan ketupat dengan gulai dan kari itu tidak bisa didapati di masyarakat Muslim Timur Tengah, tapi kita bisa memadukannya,” kata Fadly.

Pembauran budaya antara kaum pribumi, orang Eropa dan peranakan Tionghoa serta pengaruh Arab dan India membuat kuliner saat Lebaran di Indonesia menjadi beragam. Fadly menuturkan bahwa ragam kuliner tersebut merupakan wajah kebhinekaan Indonesia yang  menyatu di meja makan saat Lebaran.

“Kuliner lebaran itu mempresentasikan kebhinekaan, pengaruh dari berbagai macam rasa, berbagai suku bangsa yang kemudian menyatu dan mewujudkan satu ciri khas sebagai hidangan khas Lebaran,” kata Fadly.