Sepuluh Fakta Wabah Virus Tilapia pada Ikan Nila

Rahman Indra, CNN Indonesia | Selasa, 04/07/2017 09:05 WIB
Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali mengeluarkan peringatan agar mewaspadai wabah Tilapia Lake Virus pada ikan nila. Apa saja bahayanya? Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali mengeluarkan peringatan agar mewaspadai wabah Tilapia Lake Virus pada ikan nila. Apa saja bahayanya? (Ilustrasi/Foto: AFPTV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali memberikan peringatan pada pembudidaya ikan akan bahaya wabah Tilapia Lake Virus (TiLV) atau virus Tilapia pada ikan nila pada Senin (3/7).

Peringatan ini bukanlah yang pertama. Pada April lalu, KKP melalui Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) KKP juga pernah merilis siaran yang menyebutkan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP telah mengeluarkan larangan tentang impor ikan nila dari negara terkena wabah pada 6 April 2017.

Dua pekan setelahnya, 21 April 2017, BKIPM memperkuat larangan itu dengan memerintahkan seluruh Unit Pelaksana Teknis Karantina Ikan untuk melakukan tindakan penolakan terhadap impor ikan nila (hidup/mati) yang berasal atau transit dari negara-negara yang disebutkan telah terkena wabah.


Apa dan bagaimana sebenarnya Tilapia Lake Virus ini? Dirangkum dari sejumlah sumber, berikut sepuluh fakta awal mengenai virus pada ikan tersebut:


1. Tilapia Lake Virus (TiLV) pertama kali teramati di Israel pada 2009. Gejalanya, terjadi penurunan panen ikan nila, dari empat tahun sebelumnya 300 ton menjadi 8 ton.

2. Pada awalnya tidak diketahui jenis virus yang melanda ikan, sampai penyakit yang sama muncul di perikanan Ekuador, Mesir, Kolombia dan Thailand. Pada Juni 2017 lalu, Taiwan, dilaporkan menjadi negara ke-enam yang terkena virus ini.

3. Penyebabnya Orthomyxo-like virus, genus baru dari family Orthomyxoviridae. Virus ini bereplikasi di inti dari sel ikan. Hidup di perairan tawar dan payau.

4. Stadium rentan ada pada benih. Dilaporkan 90 persen kematian terdapat pada benih nila merah umur 1 bulan pasca tebar di pembesaran, sisanya pada ikan dewasa.

5. Virus ini masih baru dan perkembangan serta penyebaran virus terus diperbaharui setiap tahun. Vaksin yang digunakan untuk pencegahan maupun pengendaliannya masih dalam tahap penelitian dan pengembangan.

6. Ciri-ciri ikan yang terkena virus Tilapia yakni tubuh menghitam, erosi pada kulit, pembengkakan rongga perut, dan pembengkakan dan katarak pada mata. 


7. Penyebaran penyakit ini bisa melalui air atau kontak antar ikan. Dalam satu atau antar kolam, wabah TiLV bisa menyebabkan kematian hingga 80-100 persen.

8. Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan sejumlah rekomendasi di antaranya uji diagnostik ikan untuk TiLV, karantina dan monitoring ikan, serta respon tanggap darurat berupa penahanan hingga eradikasi bila positif TiLV. 

9. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BKIPM (Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu) telah menerbitkan surat pemberitahuan atau peringatan akan waspada nila dari negara terjangkit dengan menolak impor nila dan melakukan pengecekan laboratorium pada nila impor.

10. Hingga saat ini belum ada laporan hubungan penyakit ini dengan kesehatan manusia dan isu terkait konsumsi nila terinfeksi dari berbagai negara. (rah/rah)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK