Psikologi di Balik Drama KRL yang Kembali Terjadi dan Viral

Ferdy Thaeras, CNN Indonesia | Kamis, 13/07/2017 12:07 WIB
Psikologi di Balik Drama KRL yang Kembali Terjadi dan Viral 'Drama' KRL kembali terjadi. Kali ini melibatkan penumpang wanita yang mengusir pria yang sudah duduk meskipun bukan di gerbong khusus wanita ataupun kursi prioritas. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Drama di dalam KRL kembali terjadi dan kisahnya jadi viral di media sosial. Pada tanggal 10 Juli lalu, seorang penumpang membagikan ceritanya di akun Facebook tentang pengusiran dirinya yang sedang duduk oleh seorang wanita.

Hingga artikel ini dibuat, unggahan tersebut sudah dibagikan lebih dari 10 ribu dan 12 ribu komentar. Penumpang tersebut duduk di kursi bukan prioritas, KRL Commuter Line jurusan Duri-Bogor dengan tujuan stasiun Duren Kalibata. Ia lalu ditegur seorang wanita dengan kalimat kasar, mengatakan dirinya tidak pantas duduk.

Meskipun sudah dipersilakan duduk, ternyata wanita tersebut kembali melarang pria lain yang juga berniat duduk di kursi sebelahnya yang kosong dengan suara keras sehingga membuat seisi gerbong menoleh ke arahnya.

Tren 'Drama' KRL
Kejadian ini merupakan salah satu dari drama-drama psikologi yang terjadi di KRL. Sebelumnya, dua wanita yang saling berkelahi di KRL juga menjadi viral. Bahkan ada wanita yang menghujat ibu hamil yang juga disebabkan permasalahan tempat duduk.

Jika ditelaah dari sisi psikologi, hal ini jangan langsung dinilai dari kesalahan si wanita saja. Psikolog Mira Amir yang dihubungi Cnnindonesia.com, Kamis (13/07) memamparkan bahwa jika diamati kasus ini menarik karena publik menilai kesalahan hanya terletak pada sisi wanita yang menegur, namun melupakan sisi pencerita.

Menurut Mira yang juga kerap menggunakan jasa KRL, para penumpang kereta yang biasa disebut roker (rombongan kereta) biasanya memiliki empati tinggi terhadap penumpang lain. Adapula perilaku saling menjaga jika terjadi tindak tanduk yang mencurigakan. Jangan lupakan biasanya ada petugas yang biasanya menjaga.

Dalam Keadaan Stress
Dalam kasus ini, Mira melihat bahwa si wanita penegur sedang dalam keadaan stress sebelum naik kereta dan perilaku tersebut mungkin bukan perilaku sehari-harinya. Ketika ia mengalami stress, ia secara tidak sadar membutuhkan jarak fisik sosial, termasuk manusia lain.

Dalam keadaan stress tersebut, kemampuan wanita tersebut dalam mempersepsikan keadaan hingga nilai sosialnya menjadi rendah. Kemampuan empatinya pun menjadi hilang sehingga asal menegur tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Jika memang benar wanita tersebut mengalami gangguan kepribadian atau jiwa, sebenarnya tindakan pertama harus datang dari keluarganya yang tidak bisa sembarang membiarkannya bepergian. Harus segera dibawa berkonsultasi ke psikolog.

Terapi Stress
Saat orang mengalami stress, tindakan pertama psikolog menangani pasiennya adalah memberikan asupan air mineral yang cukup. Orang yang stress biasanya mengalami hari yang panjang penuh tekanan dan asupan air berpengaruh besar dalam kinerja otak.

Jika ditelusuri ketika ada banyak kasus pertikaian terjadi di tempat umum seperti KRL, bisa disebabkan faktor lain seperti cuaca panas, dehidrasi yang membuat seseorang lebih mudah terpicu emosinya karena peristiwa kecil. Itulah sebabnya ia menampilkan perilaku butuh jarak dari orang yang lain secara ekstrim dan keliru.

Sisi dari Si Pengunggah Foto
Psikolog Mira Amir juga memaparkan, dalam kasus KRL terbaru ini, harus diperhatikan ada aspek psikologi dari pihak si pengunggah cerita dan foto. Foto wanita penegur terlihat duduk tertidur dengan adanya sosok wanita lain di sebelahnya. "Mungkin dia lelah," ujar Mira.

Jika si pengunggah memiliki empati tinggi, ia bisa langsung sadar kalau wanita tersebut memang sedang stress dan memaklumi. “Posisikan jika wanita tersebut adalah anggota keluarga Anda, mungkin rasa empati itu akan timbul dengan sendirinya,” ujarnya.

Toleransi yang tipis cenderung membuat orang di zaman sekarang cepat mendokumentasikan apapun dan mengunggahnya ke media sosial dan dilihat banyak orang.

Dari ilmu psikologi, hal ini adalah bentuk ‘social reinforcement’ baru para generasi media sosial yang kerap membutuhkan dukungan dan pembenaran dari banyak orang.

Dikhawatirkan generasi berikutnya mempelajari bahwa segala sesuatunya harus ‘dimediasosialkan’ tanpa memikirkan empati maupun kelanjutan hukum.



krl


ARTIKEL TERKAIT