Tips untuk Orang Tua yang Ajak Anaknya Mendaki Gunung

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Rabu, 19/07/2017 19:40 WIB
Pendakian gunung yang dilakukan orang tua dan anak kini makin marak. Bagaimana menyiasatinya supaya perjalanan pendakian lancar dan tak bermasalah? Pendakian gunung yang dilakukan orang tua dan anak kini makin marak. Bagaimana menyiasatinya supaya perjalanan pendakian lancar dan tak bermasalah? (Foto: Thinkstock/1971yes)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mendaki gunung bukan hanya kegemaran yang dilakukan oleh orang dewasa. Tidak sedikit anak-anak yang senang dengan kegiatan mendaki gunung tersebut.

Meski demikian, kebiasaan anak mendaki gunung biasanya akan didampingi oleh orang tuanya. Selain itu, terdapat juga orang tua yang memang senang mengajak anak dan keluarganya untuk mendaki gunung.

Menurut alumni dari komunitas pecinta alam Trupala SMA Negeri 6 Jakarta, Aulia Ibnu, pendakian yang dilakukan orang tua dan anak memang sudah marak saat ini. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan orang tua saat mengajak anaknya mendaki gunung.



1. Butuh ilmu

Pendakian memang bukan kegiatan yang dapat dilakukan dengan sembarangan. Ilmu soal pendakian tentu saja dibutuhkan bagi setiap orang yang ingin melakukan kegiatan tersebut.

Aulia mengatakan, orang tua perlu untuk mempelajari ilmu menaiki gunung. Selain soal teknik dan kebutuhan, ilmu itu juga termasuk soal penyakit yang rentan menyerang seseorang saat berada di ketinggian.

"Orang tua perlu untuk mempelajari ilmu soal pendakian, ini penting juga untuk menambah pengetahuan mereka saat berada di gunung," ujarnya.

2. Pelajari literatur gunung yang dituju

Tentu saja seseorang harus mempelajari soal medan dari gunung yang ingin ditujunya. Hal itu bertujuan supaya mereka mendapat gambaran dan melakukan persiapan yang matang sebelum mendaki.

Literatur sebuah gunung memang perlu diketahui. Hal itu juga berpengaruh soal ketersediaan air di atas gunung. Saat sudah mempelajari soal literatur gunung, seseorang dapat mengetahui peralatan apa saja yang dibutuhkan seperti tali atau di mana tempat air tersedia di gunung tersebut.



3. Persiapan harus memadai

Perlengkapan dan persiapan memang harus memadai. Hal itu dipengaruhi juga oleh faktor cuaca yang sering tidak menentu di atas ketinggian.

"Orang tua harus menyediakan pakaian saat cuaca dingin, jas hujan saat cuaca memang hujan hingga persiapan untuk tidur," ucapnya.

Saat salah satu barang tersebut tidak lengkap, tidak menutup kemungkinan nyawa seseorang yang menjadi taruhannya. Tidak menutup kemungkinan juga seseorang dapat terkena hipotermia akibat kedinginan.

4. Logistik yang cukup

Makanan juga sama pentingnya dengan persiapan yang lain. Sebagai sumber tenaga, seseorang memang harus makan yang cukup saat melakukan pendakian.

Untuk itu, Aulia menyarankan, satu kelompok pendaki lebih baik menyiapkan makanan yang dilebihkan satu hari. Hal tersebut supaya tidak membuat kelompok tersebut kekurangan makanan saat pendakian.


5. Kesehatan fisik

Tentu saja kegiatan yang harus dilakukan sebelum mendaki adalah olahraga. Hal tersebut sebagai bentuk persiapan kesehatan fisik.

Olahraga dapat membuat badan lebih santai dan tidak kaku saat mendaki. Selain itu, olahraga juga dapat mencegah kram otot ketika mendaki.

Berolahraga dapat dilakukan selama dua bulan sebelum pendakian dilakukan.

6. Membawa orang berpengalaman

Untuk pendaki amatir tentu saja penting untuk mendaki bersama orang yang berpengalaman. Hal ini biasanya dilakukan dengan anggota pecinta alam atau mentor yang memang ada di gunung yang menjadi tujuan.

Guna dari orang yang berpengalaman tersebut untuk membantu pendaki supaya tidak tersesat, mengetahui teknik-teknik saat berhadapan dengan situasi tidak menyenangkan dan membantu untuk penggunaan alat pendakian lainnya.

"Pergi bersama dengan orang yang berpengalaman itu penting. Waktu itu saya pernah melihat ketika di Gunung Lawu ada ibu dan bapak yang membawa anaknya tapi nggak bisa apa-apa karena kurang persiapan dan tidak pergi dengan orang yang berpengalaman," tuturnya.

7. Jangan memaksakan anak

Ada yang bilang bonus terindah dari mendaki adalah ketika seseorang dapat pulang kembali ke rumahnya dengan selamat. Namun, hal tersebut tampaknya abai dilakukan. Banyak pendaki yang seringkali memaksakan kehendaknya untuk mencapai fisik. Padahal, tenaga mereka sudah tidak kuat lagi.

Menurut Aulia, saat mendaki bersama anak akan lebih baik untuk tidak memaksakan keinginan tersebut. Orang tua harus kembali menanyakan kepada anaknya apakah ingin melanjutkan perjalanan atau tidak. Bagaimanapun, nyawa merupakan hal terpenting yang harus dijaga oleh setiap pendaki. (rah/rah)
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK