Alasan Pria Lebih Cenderung Bunuh Diri dari Wanita

Christina Andhika Setyanti , CNN Indonesia | Jumat, 21/07/2017 15:59 WIB
Alasan Pria Lebih Cenderung Bunuh Diri dari Wanita Ada tiga alasan mengapa pria lebih cenderung bunuh diri dibanding wanita. (Thinkstock/Highwaystarz Photography)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah selebriti yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri semakin bertambah. Jumat (21/7), dunia dikejutkan dengan kabar vokalis Linkin Park Chester Bennington yang bunuh diri dengan menggantung diri di usianya yang ke-41. 

Sebelumnya sederet selebriti dunia juga melakukan bunuh diri karena berbagai alasan. Sebut saja Chris Cornell, desainer Alexander McQueen, David Carradine, dan juga komedian Robin Williams.


Kondisi ini membuat banyak orang bertanya, mengapa laki-laki lebih banyak bunuh diri dibanding perempuan? Sebenarnya sudah sejak lama bunuh diri dikaitkan dengan isu gender, dan hal ini dikenal sebagai paradoks gender tentang perilaku bunuh diri.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa perempuan sebenarnya sangat rentan terhadap masalah psikologi seperti depresi yang bisa menjadi alasan bunuh diri. Di masyarakat Eropa, tahun 2015 lalu, tingkat gangguan kesehatan mental cenderung berkisar pada 20-40 persen lebih tinggi untuk perempuan dibanding laki-laki.


Angka yang tinggi ini sebenarnya tak mengherankan jika banyak perempuan yang cenderung punya pikiran untuk bunuh diri.

The Adult Psychiatric Morbidity di Inggris melalui survei tahun 2007 menemukan bahwa dari angka tersebut sekitar 19 persen perempuan sudah mempertimbangkan kembali keinginannya untuk bunuh diri. Sedangkan pria, hanya 14 persen.

Survei tersebut juga menemukan bahwa sekitar 7 persen perempuan dan 4 persen pria pernah mencoba bunuh diri di beberapa titik tertentu dalam hidup mereka.

Namun kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Dari 5.981 angka kematian akibat bunuh diri di Inggris pada 2012 lalu menemukan fakta bahwa lebih dari tiga perempatnya(4.590 orang) adalah laki-laki. Sedangkan di Amerika Serikat, pada 2010, dari 38 ribu orang yang bunuh diri, 79 persennya adalah laki-laki.


Sebuah paradoks yang aneh, jika lebih banyak perempuan yang memiliki alasan untuk bunuh diri, lalu mengapa justru laki-laki yang lebih banyak meninggal karena bunuh diri?

Mengutip The Guardian, hal ini disebabkan oleh metode bunuh diri yang dilakukan. Saat mencoba bunuh diri, perempuan cenderung menggunakan cara tanpa kekerasan, misalnya minum racun atau overdosis. Namun sebaliknya, laki-laki lebih memilih untuk menggunakan cara yang lebih 'kejam' misalnya senjata api atau gantung diri untuk menyebabkan kematian seketika.

Di Inggris, sekitar 58 persen kasus bunuh diri pria disebabkan karena gantung diri, cekikan, atau mati lemas. Sedangkan 43 persen perempuan yang bunuh diri, 36 persennya menggunakan racun.


Pola yang nyaris mirip juga ditemukan di AS. Sekitar 56 persen pria yang bunuh diri memilih memakai senjata api. Sedangkan 37,4 persen perempuan menggunakan racun.

Ada teori yang mengungkapkan alasan mengapa metode bunuh diri laki-laki dan perempuan berbeda. Salah satunya adalah karena pria lebih bertekad untuk mati.

Teori kedua yang beredar adalah karena impulsivitas, atau kecenderungan untuk bertindak tanpa berpikir jernih soal konsekuensinya. Pria dianggap lebih impulsif dibanding perempuan, dan hal ini dianggap membuat pria lebih rentan terhadap perilaku bunuh diri.

Impulsivitas juga didukung oleh pengaruh alkohol. Studi menemukan bahwa beberapa pria memutuskan untuk bunuh diri beberapa jam sebelum bunuh diri.  Kondisi ini juga terjadi pada Chester Bennington. Sudah sejak lama Chester Bennington terlibat masalah alkohol dan depresi. 


Teori ketiga soal bunuh diri ini terkait dengan budaya. Artinya, laki-laki dan perempuan bertindak berdasarkan peran gender yang ditentukan secara budaya.

Menurut teori ini, perempuan akan memilih metode bunuh diri yang bisa 'menjaga penampilan mereka' dan meenghindari hal-hal yang menyebabkan kerusakan wajah. Hanya saja, semuanya teori ini masih harus dibuktikan lagi.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Melepas Chester Bennington