Gen SKA2, 'Biang Kerok' di Balik Niat Bunuh Diri

Christina Andhika Setyanti , CNN Indonesia | Jumat, 21/07/2017 16:40 WIB
Gen SKA2, 'Biang Kerok' di Balik Niat Bunuh Diri ilustrasi: Gen SKA2 ternyata berpengaruh pada risiko bunuh diri. (Thinkstock/tzahiV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepergian vokalis Linkin Park Chester Bennington karena gantung diri sangat mengejutkan dunia. Alasan depresi dan alkohol diduga menjadi penyebab bunuh dirinya.

Namun selain bicara soal depresi dan masalah lain yang menyebabkan bunuh diri, nyatanya keinginan bunuh diri juga dipengaruhi oleh gen. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Departemen of Veteran Affairs tahun 2014 mengungkapkan tes darah selain bisa meneliti berbagai penyakit, ternyata juga bisa memprediksi risiko bunuh diri seseorang.


Perubahan gen SKA2 dianggap sebagai gen yang bertanggung jawab untuk mengatur respons otak terhadap hormon stres.

"Kami telah menemukan gen yang menurut kami sangat penting secara konsisten mengidentifikasi berbagai perilaku dari pemikiran bunuh diri," kata Kaminsky.

Penelitian tersebut dilakukan karena tingginya angka bunuh diri para veteran militer.


"Apa yang kami bayangkan, bahwa tes ini bisa digunakan di ruang psikiatri. Misalnya untuk melihat kedekatan dan memantau peengobatan, dan mendorong penanganan tindakan yang cepat dan tepat pada orang yang berisiko tinggi," kata pemimpin penulis studi Zachary Kaminsky dari Johns Hopskins Medicine, kepada Huffington Post.

"Di militer, jika Anda bisa mengidentifikasi orang yang berisiko bunuh diri (dengan tes darah), Anda bisa meminta mereka untuk menyerahkan senjata saat mereka kembali dari tugas aktif atau membatasi akses ke cara bunuh diri mematikan."

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa mutasi genetik dianggap bisa memprediksi risiko bunuh diri dengan akurasi 80 persen. Penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal Psychiatry menemukan bahwa orang yang bunuh diri memiliki perubahan gen SKA2 dalam otaknya.


Dalam studinya, Kaminsky memeriksa jaringan otak dari berbagai kelompok yang meninggal karena bunuh diri. Dia menemukan bahwa di pada otak orang-orang yang bunuh diri, kadar SKA2 di otak mengalami perubahan jadi lebih rendah.

Ketika gen SKA2 tidak berfungsi dengan baik, tubuh pun tidak mampu menekan pelepasan kortisol si hormon stres ke seluruh otak.

Hanya saja Dr. Alexander Niculescu, seorang profesor psikiatri dan neuroscience medis di Indiana University School of Medicine yang tak terlihat dalam penelitian tersebut mengungkapkan bahwa seringkali profesional medis tidak memiliki akses terhadap informasi tersebut.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Melepas Chester Bennington