Lomba Masak Ikan, 10 Finalis Adu Rasa Demi Menuju Istana

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 10/08/2017 20:42 WIB
Lomba Masak Ikan, 10 Finalis Adu Rasa Demi Menuju Istana Usai kompetisi di lima kota yakni Batam, Gorontalo, Biak, Jakarta dan Pontianak, sepuluh finalis terbaik bersiap untuk mengadu kemampuannya menjadi juara. (Foto: Thinkstock/Flisak)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia adalah negara maritim. Namun, di balik gelar ini, masih terdapat keprihatinan soal konsumsi ikan masyarakat Indonesia yang masih terbilang sedikit.

Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono menuturkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih di angka 32 kilogram per kapita per tahun. Angka ini masih jauh dengan Jepang, yakni 70 kilogram lebih.

Beranjak dari pemikiran itu, Kemensetneg, Kemenkes, KKP, Kantor Staf Kepresidenan serta Kemenpar bekerjasama dengan Primarasa menyelenggarakan audisi dan roadshow Lomba Masak Ikan Nusantara di lima kota, yakni Batam, Gorontalo, Biak, Jakarta dan Pontianak.


"Hasil karya finalis diharapkan dapat dicicpi di istana pada 17 atau 18 Agustus. (Acara) ini merupakan bagian dari menggaungkan supaya masyarakat kita paham, bahwa ikan punya berbagai nutrisi," jelas Heru di hadapan awak media dalam konferensi pers di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (10/8).


Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki mengatakan ide lomba masak ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa kesempatan, ia mendampingi Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke daerah-daerah. Presiden, lanjut Teten, merasa banyak anak Indonesia berpostur kurus dan gizinya belum tercukupi.

"Kenapa harus kurang gizi? Toh kita punya laut yang luas. Kenapa nggak digerakkan untuk makan ikan. Lalu kami nekat saja, dadakan. Ini pun untuk mendukung target konsumsi ikan pada 2019 sebanyak 54 kilogram," kata Teten.

Sepuluh Finalis

Sebelumnya, audisi lomba masak ikan nusantara sudah dilakukan di lima kota selama hampir sebulan, mulai 3 Juli hingga 2 Agustus. Sebanyak 15 peserta diseleksi kembali pada 4 Agustus sehingga tersisa 10 finalis.

Kesepuluh finalis itu, ada Abdul Kadir dan Syamsudin dari Pontianak. Masing-masing mengusung masakan Botok Ikan Masak Putih, dan Ikan Saos Kribang Daun Kesum Tabur Serundeng.

Sementara, finalis asal Gorontalo, ada Anita Attu yang akan memboyong Iloni Burger, Non Lahibu membawa Woku Ikan Gabus Bumbu Kuning, dan Narti Buo menyajikan Ikan Santan Goroho.

Sedangkan finalis asal Batam, Sri Sudaryani dan Sri Ekowati masing-masing mengandalkan Lawar Cumi dan Lontong Singkong Tongkol.


Satu-satunya finalis asal Jakarta, Ruben Jeremia akan membuat hidangan bertajuk Gabus Pucung Sambal Pete. Matelda F. Maryen, finalis asal Biak Numfor, Papua, tampil beda dengan kreasi Kerang Tumis Labu Kuning.

Kesepuluh finalis akan diadu untuk menentukan masakan yang layak disajikan di Istana Kepresidenan pada peringatan hari kemerdekaan RI ke-72. Mereka akan berlaga di Lippo Mall Kemang, Jakarta, pada Jumat (11/8).

Chef sekaligus ketua tim juri, Vindex Tengker mengatakan penilaian nantinya terbagi menjadi tiga bagian, yakni rasa, presentasi dan kerapihan serta kebersihan.

"Bagi sebagian orang, masakan Indonesia itu dipikirnya tidak higienis. Tapi sebenarnya itu keunikan kita, misal ini uleg setelah dipakai dicuci apa nggak seperti itu. (Namun) kita masuk ke ranah internasional, kita perlu mempertimbangkan hal itu," ujarnya.