Psikiater: Butuh Stimulan, Alasan Artis Beralih ke Narkotika

Rahman Indra , CNN Indonesia | Sabtu, 12/08/2017 15:23 WIB
Psikiater: Butuh Stimulan, Alasan Artis Beralih ke Narkotika Tertangkapnya Ello karena pemilikan ganja berselang tak lama dari Tora Sudiro karena dumolid. Apakah benar sejumlah artis butuh relaks dan stimulan? (Foto: Thinkstock/Doug Menuez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar tertangkapnya Ello karena kepemilikan ganja menambah daftar selebritis tanah air yang tersandung narkotika. Sebelumnya, dalam rentang waktu yang tak begitu jauh, aktor Tora Sudiro juga kedapatan menguasai tanpa resep obat golongan Benzodiazepine, atau Dumolid.

Rentetan peristiwa ini menggiring publik pada anggapan kehidupan artis tak lepas dari obat-obatan. Tidak hanya di dalam negeri. Berkaca pada artis di luar negeri pun juga banyak musisi yang kecanduan alkohol dan obat terlarang dan menjalani rehabilitasi berkali-kali. Pertanyaannya mengapa artis menggunakan napza?

Psikiater Andri, dari klinik Psikosomatik Omni Hospitals Alam Sutera, dalam catatannya pada Jumat (11/8) mengungkapkan hal tersebut tidak lepas dari kebutuhan akan relaks dan stimulan.

"Saya mengamati bahwa kebanyakan artis dulu banyak ditangkap karena penyalahgunaan stimulan seperti sabu dan ekstasi. Kita dalam dunia kedokteran jiwa memahami bahwa zat jenis stimulan ini biasanya digunakan untuk mendapatkan semangat dan rasa senang yang berlebihan, karena pada saat digunakan orang bisa mengalami euforia bahkan sampai halusinasi. Tentunya efek yang diinginkan adalah efek semangat dan rasa senang," ungkapnya.


Banyak artis, kata dia, yang menjalani kehidupannya dengan tingkat kesibukan yang tinggi. Pindah dari satu studio televisi ke studio yang lain. Belum lagi acara off air yang banyak dipandu mereka. Tentunya dengan kondisi kesibukan yang luar biasa dan sering kali melampaui batasan kemampuan fisiknya mereka butuh alat bantudan sayangnya berujung pada penggunaan zat stimulan.

Ia lalu memberi contoh artis RA yang diketahui mengggunakan Katinon. Saat itu, kata Andri, katinon belum dimasukkan dalam daftar golongan obat stimulan oleh hukum di Indonesia. Biasanya zat ini didapatkan dari garam mandi (bath salt) yang bisa didapatkan di toko-toko umum di negara tertentu.

Psikolog: Butuh Stimulan, Alasan Artis Beralih ke NarkotikaFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Amerika Serikat sendiri melalu UU daruratnya mengawasi peredaran zat ini karena memang diketahui memiliki efek stimulan. Mengapa RA butuh stimulan? Tentu semua tahu jawabannya. Mobilitas dan aktifitasnya yang tinggi tentu membutuhkan dukungan performa yang tinggi pula, kalau tidak tidak bisa tampil optimal. Walaupun tentunya menggunakan stimulan dalam jangka waktu panjang juga sangat berbahaya bagi tubuh.


Banyak sekali artis yang tertangkap karena kepemilikan sabu. Jenis stimulan ini memang dianggap punya efek memberikan rasa bahagia berlebihan dan semangat. Ini juga yang mendorong banyak artis pendatang baru atau yang sudah mulai meredup bintangnya beralih ke narkotika. 

"Tentunya ini hanya asumsi saya pribadi karena kalau dilihat tidak hanya artis yang sibuk yang menggunakan stimulan, tetapi juga banyak artis yang sudah mulai redup," ujarnya.

Ganja yang didapatkan pada banyak kasus artis yang tertangkap adalah suatu zat yang berfungsi menenangkan seperti layaknya banyak obat benzodiazepine. Ketegangan yang sehari-hari ditemui dengan jadwal yang padat mungkin membuat banyak artis tidak tenang, susah relaks dan tidak bisa tidur.

"Mereka akhirnya memilih jalan singkat untuk mengatasi hal tersebut tanpa berkonsultasi dengan dokter lagi," ujarnya.


Menurut Andri, ia bisa memahami betapa susahnya menjadi artis yang kesibukannya sangat padat dan tidak ada waktu untuk relaksasi. Belum lagi tuntutan penggemar yang sering kali menjadi sulit dipahami oleh mereka sendiri. Para lovers dan haters yang saling simpang siur dalam hidup mereka.

"Satu lagi yang perlu diwaspadai namun masih tetap bisa bebas dibeli adalah Alkohol. Alkohol memiliki efek menekan susunan saraf pusat. Efek yang diharapkan adalah menenangkan," ujarnya menambahkan.

Andri menilai banyak kasus terkait kekerasan dan penggunaan alkohol karena alkohol mampu menekan rasa tidak nyaman namun juga bisa menumpulkan perasaan takut. Pengguna alkohol yang menggunakan zat ini untuk menenangkan dirinya dari perasaan cemas dan depresi tentunya akan sangat sulit menghadapi kenyataannya lagi jika pengaruh alkohol sudah hilang. Itulah mengapa alkohol bisa membuat cemas dan depresi lebih dalam.

Lebih jauh, ia menyarankan agar sederet artis dan juga publik untuk mengalihkan rasa capai dengan istirahat, menyempatkan waktu untuk melakukan aktivitas olahraga dan relaksasi. Inilah sebenarnya yang diperlukan dalam menjaga keseimbangan tubuh.

"Sayangnya mungkin tidak semua orang mampu melakukan ini. Kendala karena sedang dalam mengejar sesuatu atau yang dikaitkan dengan banyaknya kegiatan membuat orang mengubah pola tidur dan istirahatnya. Itulah mengapa akhirnya mereka menggunakan zat pembantu yang lebih sering ilegal untuk mengatasi kondisinya," ujar dia.