Sementara, layanan terapi ini sendiri sudah berjalan sejak Mei lalu. Hingga pertengahan September, sudah ada sekitar 25-30 pasien yang menjalani terapi sel. Sekali treatment mereka harus merogeh kocek mulai dari Rp300 juta hingga Rp 500 juta.
Ditemui di Cell Cure Center, RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada Kamis (14/9), dr Nyoto Widyo Astoro, spesialis hematologi Onkologi dan Cell Cure memberi tanggapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh, Nyoto mengatakan RSPAD GS bekerjasama dengan klinik di Jerman. Nantinya, kata dia, mungkin mengembangkan penelitian bersama.
Terkait ada anggapan pasien jadi bagian dari penelitian, Nyoto menyangkal.
"Ini kan pakai izin pasien, kalau mau penelitian mesti izin pasien, ada etik untuk penelitian," tambah dia.
Data studi klinik pada manusia yang tercatat di Cell Cure Center RSPAD GS. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra) |
Dalam prosedurnya, kata dia, pasien terlebih dulu mendaftar, menjalani screening dan konsultasi sebelum diputuskan apakah memenuhi syarat untuk menjalani terapi Cell Cure. Syarat itu meliputi jenis penyakit dan produk sel yang mau dilakukan tindakan. Apakah jenis sel dendritik, regenerative atau regulatory.
"Terapi sel ini tidak hanya kanker, tapi juga penyakit degeneratif, dan autoimun," ujarnya.
Foto: Dok. Cell Cure Centre |
"Ada yang baru, ada juga yang menjalani di mana-mana, terus ke sini. Pasien kanker yang sudah tak mempan dengan terapi sebelumnya juga ada yang ke sini," kata dia.
Syaratnya, kata dia, ada beberapa. Di antaranya, HB-nya tidak boleh rendah, atau ada luka berat harus diperbaiki terlebih dahulu.
Lihat juga:Terapi Cell Cure Masih Perlu Uji Klinis |
"Kita cek benar dendritik tidak, cek fisik, kalau sudah benar dendritik baru dikenalkan ke anti-gen kanker," ujarnya.
Jika ditemukan syarat-syarat dendritik matang ada, barulah disuntikkan di tangan seperti vaksin. Sel dendritik menuju ke getah bening, di situ ada daya tahan tubuh naif yang belum aktif.
Bagaimana bedanya dengan sel punca? Dokter Nyoto mengatakan sel punca jika disuntikkan di lingkungan kanker, bisa jadi kanker. Selain itu, sel punca, kata dia, tidak punya arah mau jadinya di bagian tubuh mana. Setelah frustasi dengan inovasi sel punca maka dikembangkannya terapi sel.
"Kita dapat izin untuk melakukan layanan ini," ujarnya.
Sementara, Kementerian Kesehatan belum memberikan responsnya setelah sempat dikonfirmasi terkait dengan keberadaan layanan terapi sel di RSPAD GS. (rah)
Data studi klinik pada manusia yang tercatat di Cell Cure Center RSPAD GS. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Foto: Dok. Cell Cure Centre