Kopi Jawa: Mendunia Kemudian Hilang Diberangus Hama

CNN Indonesia , CNN Indonesia | Minggu, 01/10/2017 12:19 WIB
Kopi Jawa: Mendunia Kemudian Hilang Diberangus Hama Ilustrasi biji kopi. Indonesia merupakan produsen kopi terbesar ketiga di dunia. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tradisi minum kopi di Indonesia bukan terjadi baru-baru ini saja terjadi, meski kini berbagai kafe menjamur di kota-kota besar.  Bahkan, budaya minum kopi sudah ada sejak era kolonialisasi Belanda.

Khususnya di Indonesia, kultur menikmati secangkir kopi juga ditunjang kemampuan memproduksi varian biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Lampung, Bali, Flores, hingga Papua. Ini tentu berbeda dari Italia yang tak punya perkebunan sendiri, meski masyarakatnya juga punya tradisi minum kopi yang kental.

Biji-biji kopi yang berasal dari tanah sendiri pun kini kian mendapatkan tempat di hati anak muda.

“Saya suka kopi Lampung, wanginya itu ada ciri khas tersendiri yang enggak ada di kopi lainnya. Rasanya hampir mirip kopi Jawa. Aroma khasnya tercium kalau sudah bercampur dengan air panas,” tutur salah satu anak muda penikmat kopi berusia 24 tahun, Joni.

Lainnya halnya dengan penikmat kopi berusia 21 tahun, Andrew Lee yang lebih menyukai kopi medan.

“Kopi Medan itu enak banget, rasanya beda dari yang lain. Kopinya yang pekat cukup untuk disajikan dalam takaran satu sendok teh saja. Kopi medan juga pas buat yang suka bergadang,” ujarnya.

Dalam hal produksi kopi, Indonesia berada pada urutan keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Setiap tahunnya 400 ribu ton kopi Indonesia diekspor ke berbagai negara menjadikan biji kopi salah satu komoditas andalan.

Tren minum kopi kembali populer di kalangan anak muda dan dengan menjamurnya kafe-kafe di kota besar. Tren minum kopi kembali populer di kalangan anak muda dan dengan menjamurnya kafe-kafe di kota besar. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Jika menilik garis sejarah lebih jauh, sudah sejak abad ke-16 Indonesia dikenal sebagai surga kopi. Bahkan, di era itu Kopi Jawa menjadi salah satu yang paling dicari di dunia – dikenal dengan nama Java.

Hingga akhir abad ke-16, sebenarnya pasokan kopi dunia berasal hanya dari Arab Saudi dan Ethiopia sebagai dua negara yang memang mengenalkan minuman kopi pada dunia. Kemudian tanaman kopi mulai disebarkan ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia yaitu melalui penjajah Belanda.

Kopi masuk melalui Batavia dengan dibawa Komandan Pasukan Belanda (VOC), Adrian Van Ommen. Ia diminta Wali Kota Amsterdam Nicholas Witsen untuk menguji coba kopi di lahan pribadi Gubernur Jendral VOC, Willem van Outhoorn.

Area itu kini dikenal dengan nama Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Percobaan pertama Belanda gagal setelah seluruh bibitnya hilang dilanda banjir. Pada 1699, bibit-bibit kopi yang baru pun didatangkan, tepatnya jenis Arabika.

Panenan pertama kopi Jawa hasil perkebunan Pondok Kopi langsung dikirim ke Hortus Botanicus Amstredam. Menurut kalangan ilmuwan di sana, kopi Jawa memiliki aroma khas dan cita rasa yang belum pernah ada sebelumnya.

Hal itu mendorong VOC untuk mengembangkan kultur perkebunan kopi di Indonesia dan menjadikannya komoditas. Dari Jakarta (Batavia), kebun kopi kemudian mulai dibuka di Jawa Barat dan juga Jawa Timur. Varian Jawa Arabika jadi unggulan.

Ekspor pertama terjadi pada 1711 yaitu sebanyak 894 pounds atau setara 405 kilogram. Jumlah ini meningkat menjadi sebanyak 60 ton per tahun dalam 10 tahun berikutnya

Hindia Belanda pun menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia. Tak ayal VOC memonopoli perdagangan kopi dari 1725-1780.

Kopi-kopi tersebut kemudian dikenal sebagai “Secangkir Jawa” atau “Kopi Jawa.”

Indonesia memiliki banyak varian kopi dari berbagai daerah, seperti Sumatera, Jawa, hingga Flores. Indonesia memiliki banyak varian kopi dari berbagai daerah, seperti Sumatera, Jawa, hingga Flores.  (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Dalam buku A Cup of Java, Mark Hanusz mengisahkan bahwa mendunianya nama kopi Jawa terekam dalam perhelatan World’s Columbian Exhibition di Chicago, Amerika Serikat. Acara itu diselenggarakan pada 1893 di bulan Mei sampai Agustus untuk memeringati 400 tahun penemuan Benua Amerika oleh Christopher Colombus.

Pada acara itu, paviliun yang paling popular adalah Java Village, sebuah model kampung di Jawa yang mendemonstrasikan pembuatan batik, gamelan, dan wayang. Namun, hal yang membuat paviliun itu dipenuhi pengunjung adalah karena disediakannya kopi Jawa.

Para pengunjung menyebutnya A Cup of Java, atau secangkir Java. Sejak saat itu, kopi Jawa semakin digemari.

Bahkan, di Amerika dan beberapa negara kata “Java” adalah sebutan lain untuk kopi.

Sampai pertengahan abad ke-19, kopi Jawa jenis Arabika menjadi kopi terbaik di dunia. Pada 1830-1834, produksinya mencapai 26.600 ton dan meningkat menjadi 79.600 ton dalam kurun waktu 30 tahun. Bahkan, pada 1880-1884 mencapai 94.400 ton.

Namun masa kejayaan kopi Jawa ini hanya bertahan 175 tahun. Hama Hemileia vastatrix (blast diseases) atau Karat Daun menyerang komoditas kopi tersebut pada 1876 sehingga hanya mampu bertahan hidup di ketinggian 100 meter di atas permukaan laut.

Masa kejayaan kopi Jawa hanya bertahan 175 tahun karena diserang hama Karat Daun. Masa kejayaan kopi Jawa hanya bertahan 175 tahun karena diserang hama Karat Daun. (CNN Indonesia/Tabayyun Pasinringi)
Semakin merosotnya produksi kopi membikin Belanda mendatangkan jenis kopi Liberika ke Indonesia pada 1875. Namun, hama Karat Daun tetap menjadi masalah utama. Pada 1900, kopi Robusta pun didatangkan. Kopi robusta sendiri lebih mudah untuk dirawat sehingga dapat diproduksi lebih banyak.

Hanya saja, kopi Jawa yang semula mendunia, perlahan meredup dan mulai tergantikan dengan kopi-kopi lain.

Kultur perkebunan kopi yang dibawa Belanda sendiri membuat kopi tersebar ke seluruh Indonesia. Ini memunculkan entitas sesuai dengan daerah tempat kopi yang ditanam seperti Kopi Gayo dan Kopi Sidikalang.

“Saya pernah mencicipi Kopi Jawa, teksturnya kental dan benar-benar berasa kopinya. Setelah mencicipi suka sih dengan rasanya dan cocok diminum dalam cuaca dingin,” ungkap Joni.

Menurut Joni, kopi asal Jawa memang layak dikenal dunia.

“Kopi Jawa mudah ditemukan dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Saya sendiri suka kopi jawa, apalagi Javanese latte yang pekat, tetapi pas,” ucap Andrew Lee.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Rayuan Secangkir Kopi