Festival Kue Bulan dan Legenda Cinta Abadi

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 04/10/2017 20:37 WIB
Festival Kue Bulan dan Legenda Cinta Abadi Festival Kue Bulan dirayakan saat bulan dalam keadaan bulat penuh di tahun tersebut. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanggal 4 Oktober 2017, warga China menikmati libur nasional dalam rangka Festival Musim Gugur atau lebih dikenal dengan Festival Kue Bulan. Festival yang dalam bahasa Mandarin disebut "Zhong Qiu Jie" ini jatuh tiap hari kelima belas pada bulan kedelapan menurut kalender bulan.

Festival ini telah dirayakan sejak 3000 tahun lalu, tepatnya pada zaman Dinasti Song. Tak hanya publik China, festival juga dirayakan oleh warga Asia termasuk Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura dan Vietnam.

Bagaimana asal muasal Festival Kue Bulan?


Festival Kue Bulan dirayakan saat bulan dalam keadaan bulat penuh di tahun tersebut.


Ada beragam kisah yang melatarbelakangi libur nasional untuk merayakan festival. Namun, dilansir dari Quartz, semua kisah berpusat pada kisah cinta antara seorang dewi yang cantik dan pandai bernama Chang'e dan suaminya, seorang pemanah bernama Hou Yi. Kisah ini didasarkan pada buku Handbook of Chinese Mythology.

Alkisah, Hou Yi berhasil menyelamatkan dunia saat 10 matahari terbit di langit selama setahun. Pemanah ini melepaskan anak panah pada 9 matahari. Berkat jasanya, ia memperoleh ramuan keabadian dari Xi Wangmu, ratu keabadian dari barat. Hou Yi tak meminum ramuan dan lebih memilih hidup di dunia bersama sang istri, Chang'e. Ramuan pun disimpan Chang'e.

Mengetahui keberadaan ramuan ini, murid Yi, Feng Meng mendatangi rumah pasangan ini saat Yi pergi berburu. Feng Meng memaksa Chang'e untuk memberikan ramuan, tapi ia menolak. Chang'e pun menelan ramuan dan naik ke langit. Chang'e tidak ingin jauh dari suaminya, sehingga ia memilih untuk menjadi bulan.


Saat Hou Yi tiba di rumah, ia pun tahu sang istri telah pergi. Meski sedih, ia pun meletakkan buah-buahan dan kue di halaman rumah mereka untuk mengenang sang istri. Warga pun tahu apa yang terjadi dan turut memberikan penghormatan pada bulan tiap tahun, pada hari kelima belas bulan kedelapan, saat bulan bulat penuh dan bersinar terang.

Tradisi Menikmati Kue Bulan

Di China, Festival Kue Bulan diasosiasikan dengan pertemuan keluarga, panen dan tentu saja kue bulan. Meski kue bulan kini sudah begitu banyak ditemui di mana pun, kudapan ini tidak populer hingga Dinasti Yuan. Dikatakan bahwa kue bulan digunakan selama masa Dinasti Yuan sebagai pembawa pesan rahasia untuk membantu orang Han menggulingkan rezim Mongol.

Kebanyakan orang mengenal kue bulan khas Kanton. Kue dibuat dengan pasta biji teratai, dibungkus dengan satu atau dua kuning telur bebek dan ditutup dengan lapis tipis adonan tepung. Kue jenis ini populer di Guangdong dan Hong Kong. Sebenarnya ada banyak varian tergantung wilayah di China. Di barat daya Provinsi Yunan, warga menyiapkan kue bulan dengan isi bunga dan ham. Di Suzhou, dekat Shanghai, kue punya tekstur renyah dan isi daging. Kue ini bisa dinikmati sepanjang tahun. Kue bulan ala Beijing punya varian isi lebih modern seperti kacang merah.

Kue bulan Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
Kue bulan

Kini, isi kue bulan makin inovatif seperti es krim, coklat, vanila, bahkan retail kenamaan seperti Starbucks dan Haagan-Dazs punya kreasi mereka sendiri.

Merayakan festival tak hanya dengan makan kue bulan, layaknya perayaan Imlek, warga China menghias jalanan, rumah dan kantor dengan lentera tradisional yang terbuat dari kertas dan diisi lampu.

China bukan satu-satunya negara yang merayakan festival. Di Korea Selatan, festival ini disebut Chuseok atau Thanksgiving ala Korea. Orang Korea akan mengunjungi makam leluhur, melihat tarian tradisional, dan makan songpyeon, kue beras sebesar bola golf yang berisi wijen, kacang merah dan kacang mete. Sementara itu, orang Jepang merayakan Tsukimi. Mereka makan tsukimi dango yakni pangsit bulat putih dari beras. (chs)


BACA JUGA