Menopause Bisa Picu Alzheimer

Elise Dwi Ratnasari , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 07:07 WIB
Menopause Bisa Picu Alzheimer Sebuha studi kesehatan mengungkapkan menopause tak hanya soal berkurangnya kesuburan, tapi juga ada risiko penyakit alzheimer di baliknya. (Foto: Thinkstock/9nong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menopause merupakan hal yang wajar dialami wanita usia 50 tahun ke atas. Pada masa ini, wanita tidak lagi mengalami menstruasi. Berbagai gejala biasanya dialami mereka yang memasuki masa menopause seperti hot flushes atau keringat berlebihan, cemas berlebih, sulit tidur hingga perasaan yang tak menentu.

Selain itu, pada masa menopause, kadar hormon estrogen menurun sehingga mengakibatkan perubahan metabolik pada otak. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena penyakit alzheimer.

Sebuah studi kesehatan terbaru yang diterbitkan di jurnal PLoS One mengungkapkan berkurangnya hormon estrogen mengakibatkan elemen saraf perlindungan pada otak wanita berkurang.


"Menopause tak hanya soal terkikisnya kesuburan. Ini juga berarti hilangnya elemen kunci pada saraf perlindungan pada otak wanita dan risiko lebih tinggi pada penuaan otak dan penyakit alzheimer," kata Lisa Mosconi, pemimpin studi sekaligus profesor di Cornell University, Amerika Serikat, seperti dilansir dari Boldsky, (11/10).

Penurunan kadar hormon estrogen juga memicu 'reaksi kelaparan' pada sel otak. Ini adalah sebuah proses metabolisme yang penting dalam jangka pendek, tapi berbahaya dalam jangka panjang.

Temuan studi tersebut juga mengungkapkan berkurangnya volume sel otak dan serat saraf pada otak wanita yang terkena alzheimer.

"Studi ini menemukan kemungkinan peluang kecil, saat wanita berusia 40-an dan 50-an untuk mendeteksi gejala metabolik dari risiko alzheimer yang lebih tinggi dan menerapkan strategi untuk mengurangi hal ini," tutur Mosconi.


Peneliti ini berkata, wanita yang memasuki usia 40-an perlu melakukan pemeriksaan medis pada kelenjar endokrin atau sistem saraf demi mencegah penyakit alzheimer. Wanita perlu antioksidan untuk melindungi aktivitas otak dan mitokondria, dikombinasi dengan pengaturan kadar hormon estrogen.

Gaya hidup juga turut mempengaruhi. Olahraga teratur, makanan yang kaya akan antioksidan seperti apel, pisang, brokoli, kacang almond, dan tomat diyakini mampu meningkatkan produksi hormon estrogen. (rah)


BACA JUGA