Sektor Pariwisata Tunjukkan Angka Pertumbuhan yang Baik

adv, CNN Indonesia | Rabu, 18/10/2017 12:28 WIB
Sektor Pariwisata Tunjukkan Angka Pertumbuhan yang Baik Menteri Pariwisata Arief Yahya memaparkan presentasi pembangunan sektor pariwisata Indonesia dalam konferensi pers 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK (Foto: dok. Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kinerja Kementerian Pariwisata (Kemenpar) membuahkan hasil yang baik. Hal ini ditunjukkan dari paparan 3 Tahun Sektor Pariwisata Pemerintahan Jokowi-JK. Angka pertumbuhan sektor pariwisata menunjukkan angka yang mengesankan. Tandanya, sektor pariwisata benar-benar menjadi primadona perekonomian Indonesia ke depannya.

Belum lagi sumbangan devisa dan penyerapan tenaga kerja dari sektor pariwisata turut meningkat signifikan. Reputasi Wonderful Indonesia di pentas dunia pun melejit dan memancarkan optimisme.  Semua hal tersebut disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya pada paparannya yang bertajuk ‘Pembangunan Ekonomi Baru dan Peningkatan Produktivitas untuk Menunjang Pemerataan’ di Kantor Staf Presiden Jakarta, Selasa (17/10/2017).

Turut hadir dalam acara tersebut Menko Perekonomian Darmin Nasution, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.


"Pariwisata sudah dilirik sebagai primadona baru bagi perekonomian bangsa karena pertumbuhannya yang sangat bagus," ujarnya.

Beberapa hal penanda bahwa sektor pariwisata bakal semakin mendunia diungkapkan dengan lugas. Capaian pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan  mancanegara (wisman) ke Tanah Air selama tiga tahun ini menunjukkan grafik menanjak.

“Bahkan capaian Januari-Agustus 2017 ini data terbaru naik 25,68%,” jelasnya.

Bila dibandingkan dengan pertumbuhan regional ASEAN 7%, maka Indonesia naik 3,5 kali lipat dari rata-rata Asia Tenggara. Arief juga membandingkan dengan pertumbuhan wisatawan dunia yang bertumbuh 6,4%.

“Kita naik 4 kali lipat dari rata-rata dunia,” lanjutnya.

Sementara bila dilihat sejak 2014, maka angka kenaikan tersebut cukup mengagumkan. Pada 2014 sebesar 9,3 juta, kemudian pada 2015 naik menjadi 10,4, lalu pada 2016 menembus 12 juta, dan  tahun ini sampai bulan Agustus sudah mencatat 9,2 juta.

Jumlah wisatawan nusantara (wisnus) juga naik dengan besar. Pada Agustus 2017 ini sudah menembus 200 juta pergerakan dari proyeksi 180,5 juta wisatawan. Sedangkan pada 2016, dari proyeksi 260 juta terlampaui hingga 264 juta. Kemudian pada 2015 juga melebihi target dari 255 juta, tercapai 256 juta.

Ia juga mengungkapkan indeks daya saing Pariwisata Indonesia naik fantastis. Dari peringkat 70 dunia pada 2013, melompat ke posisi 50 besar pada 2015, dan tahun ini menembus papan 42 besar dunia.

“Ini karena kita perkuat branding Wonderful Indonesia dan memperbaiki 14 pilar yang sudah disusun oleh TTCI – Travel and Tourism Competitiveness Index, World Economic Forum,” paparnya.

Arief turut menampilkan reputasi Indonesia di level dunia. Wonderful Indonesia selalu juara di setiap kompetisi di sektor pariwisata dunia.

“Tahun 2016 kita memperoleh 46 penghargaan dunia dari 22 negara. Tahun 2017 ini kita sudah mengantungi 22 negara dari 10 negara,” ungkap menteri asal Banyuwangi ini.

Dari tiga prestasi selama tiga tahun di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, Arief mengatakan masa depan pariwisata akan semakin terbuka. Kinerja ini berkat CEO Commitment yang ditunjukkan Presiden selama memimpin kabinet kerja ini.

Pertama, pariwisata ditetapkan Presiden Jokowi sebagai leading sector sekaligus core economy bangsa. Kedua, presiden sendiri sudah hadir dan mendukung pariwisata dengan menetapkan 10 destinasi prioritas atau yang sering dipopulerkan dengan istilah 10 Bali Baru.

Kesepuluh destinasi prioritas itu antara lain Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Bangka Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Borobudur di Joglosemar, Bromo-Tengger-Semeru Jawa Timur, Mandalika di Lombok, Komodo-Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Morotai Maltara.

Ketiga, Presiden telah  melihat secara langsung banyak destinasi wisata tersebut. Adapun kawasan yang pernah didatangi Presiden Jokowi adalah Raja Ampat, Morotai, Labuan Bajo, Larantuka, Mandalika, Borobudur, Tanjung Lesung, dan Danau Toba.

Sejumlah kegiatan karnaval juga dihadiri langsung oleh Presiden Jokowi, seperti Karnaval Khatulistiwa 2015 di Pontianak, Pesona Danau Toba 2016 di Sumut, Karnaval Parahyangan Bandung 2017.

“Semua itu menunjukkan komitmen yang tinggi dari Presiden Jokowi terhadap dunia pariwisata,” katanya.

Arief  juga menjelaskan hasil riset World Bank tahun 2016 yang menyebutkan sektor pariwisata merupakan penyumbang yang paling mudah untuk devisa dan pendapatan domestik bruto (PDB).

"Untuk Indonesia, pariwisata sebagai penyumbang PDB, devisa, dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah," tambahnya.

Sejumlah penghargaan dunia tersebut sangat penting untuk tiga alasan yang ia sebut sebagai 3C, yakni Calibration, Confidence, dan Credibility.

"Bila kita mendapatkan penghargaan, maka self confidence anak bangsa inin naik," ujarnya.

Dari sisi Credibility, jika dikomunikasikan dengan baik maka penghargaan (award) yang diperoleh dapat menjadi cara marketing paling efektif untuk image. Sehingga tidak perlu bersusah payah menyampaikan keunggulan pariwisata Indonesia."Sebuah penghargaan juga bermanfaat untuk menera apakah yang kita lakukan sudah benar sekaligus mengetahui posisi kita dibandingkan dengan yang lain. Inilah fungsi yang ketiga sebagai Calibration," lanjutnya.

Presiden Jokowi telah menetapkan pariwisata sebagai salah satu leading sector perekonomian bangsa. Jumlah wisman hingga 2019 ditargetkan mencapai 20 juta kunjungan.

"Ketika Presiden sudah menetapkan sebagai leading sector, maka kementerian/lembaga lain harus mendukung. Indonesia incorporated menjadi hal yang penting untuk bisa dilakukan bersama-sama semua pihak," tegasnya, Sementara Menko Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan bahwa pengembangan 10 destinasi pariwisata prioritas merupakan salah satu bentuk pembangunan perekonomian Indonesia Sentris.

"Yang tersebar di berbagai wilayah, sebagai salah satu bentuk pemerataan pembangunan," ujar Darmin.