Studi: Polusi Penyebab Kematian Terbesar di Dunia

Rahman Indra , CNN Indonesia | Jumat, 20/10/2017 16:37 WIB
Studi: Polusi Penyebab Kematian Terbesar di Dunia Polusi, dari mulai udara, tanah hingga air, ternyata menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Pada 2015, 9 juta orang meninggal dunia karena polusi. (Foto: REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah studi kesehatan terbaru mengungkapkan betapa polusi lingkungan, dari mulai udara, tanah hingga air, ternyata menjadi penyebab kematian manusia setiap tahun. Bahkan, angka kematiannya bisa jadi lebih besar dibanding bencana alam, peperangan, kelaparan, TBC, atau pun malaria.

Laporan tersebut mengungkapkan, satu dari enam orang meninggal dunia di 2015 karena keracunan atau polusi. Angkanya mencapai sembilan juta orang. Laporan studi tersebut diungkap jurnal medis The Lancet pada Kamis, (19/10).

Menurut laporan yang dikeluarkan The Lancet Commission on Polution and Health tersebut, polusi udara sejauh ini menjadi penyebab terbesar dibanding jenis polusi lainnya, dengan kematian hingga 6,5 juta orang pada 2015. Sementara polusi air, menyebabkan kematian 1,8 juta orang, dan polusi di tempat kerja sebanyak 0,8 juta orang.


Tidak hanya mengungkap besaran jumlah kematian, dan jenis polusi paling berbahaya, laporan tersebut juga memetakan negara yang industrinya berkembang pesat juga menjadi paling banyak terkenda dampak.

Diketahui, ada satu dari empat kematian di negara yang berkembang tersebut, seperti di India, Pakistan, China, Bangladesh, Madagaskar dan Kenya, yang bisa jadi karena kontaminasi udara, air, dan tanah.

"Polusi berdampak besar bagi yang miskin dan rapuh," ujar Dr. Olusoji Adeyi, komisioner dan direktur kesehatan, nutrisi dan populasi global World Bank Group, seperti dilansir dari CNN.

Adeyi menambahkan, anak-anak merupakan yang paling berisiko tinggi terkenda dampak polusi. Oleh karenanya, kata dia, setiap negara mesti meningkatkan kesadaran untuk mengurangi tingkat polusi ini.

Dr. Philip J Landringan, komisioner lainnya menegaskan persoalan pada kasus ini adalah keberadaan bahan kimia. "Ada ribuan bahan kimia di luar sana, dan kita tahu banyak orang yang terkena racun, tapi patut dicari tahu sampai sejauh mana pengaruh buruknya," ujar Landrigan.


Landrigan lebih jauh memaparkan laporan akan polusi tersebut beranjak dari dua sumber yang terpercaya, yakni World Health Organization dan The Institute for Health Metrics and Evaluation yang berbasis di University of Washington dan didanai Gates Foundation.

Data dikumpulkan dengan teknologi satelit dan monitoring lainnya, yang dibanding masa silam, ini lebih maju dari sebelumnya.

Pada awalnya, kata Landrigan, tim peneliti mengumpulkan informasi terkait kematian karena polusi dari semua bentuk, dari mulai udara, air, kimia, tanah dan polusi di tempat kerja, lalu menyatukannya.

"Negara dengan perkembangan industri pesat memiliki polusi udara tinggi, dan polusi bahan kimia yang sangat berisiko," ujarnya.

Dibanding polusi di masa silam, atau sebelum industri modern, maka kini lebih berbahaya. Industri modern, kota modern, dan gaya hidup modern adalah penyebab dasar akan berbagai jenis bentuk polusi, dari mulai udara, kimia, tanah dan tempat kerja.

"Setiap tahun kematian akibat polusi di dunia modern ini terus bertambah dan meningkat," tambah dia.