Sebuah studi baru menunjukkan, kalau saat ini memang semakin banyak turis yang berwisata dengan tujuan mengunggah sesuatu di media sosial, demi mendapatkan tanda suka (likes).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu diajak berbincang mengenai wisata Kuba, sebagian besar responden mengaku jika mereka berkesempatan datang ke Kuba maka mereka akan mengunggah banyak hal di media sosial.
Mereka juga “optimis” kalau unggahan mereka mengenai Kuba akan mendapat banyak likes.
Responden yang berencana datang ke Kuba untuk mengunggah sesuatu di media sosial merupakan turis yang berencana datang dalam waktu dekat.
[Gambas:Instagram]
Sementara responden yang belum berencana datang dalam waktu dekat berpikir sebaliknya.
“Semakin banyak turis yang menyadari dampak sosial dari kegiatan berwisata. Tapi, kesadaran tiap turis akan hal itu berbeda,” kata tim peneliti.
Sikap turis yang suka pamer di media sosial juga ikut diteliti dari studi ini.
[Gambas:Instagram]
Meski demikian, "turis tukang pamer" memberi keuntungan bagi tempat wisata yang dikunjungi. Contohnya ialah Islandia, salah satu tempat terdingin di dunia yang kini malah ramai oleh turis yang datang untuk memotret fenomena alam Cahaya Utara.
Para turis tukang pamer ini punya tujuan wisata yang hakiki, yakni datang ke sebuah tempat wisata yang belum populer di media sosial. Semakin unik tempat wisatanya, maka mereka akan semakin penasaran.
“Tempat wisata dengan banyak potensi unggahan media sosial mendapat keuntungan dari tren berwisata ini. Kepopuleran akan memberi nilai baru pada sebuah tempat,” kata tim peneliti.
(ard)