Jerman Sediakan Layanan untuk Turis dengan Disabilitas

Ardita Mustafa , CNN Indonesia | Jumat, 17/11/2017 16:03 WIB
Jerman Sediakan Layanan untuk Turis dengan Disabilitas Suasana Pasar Natal di Berlin, Jerman. (REUTERS/Hannibal Hanschke)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jerman dikenal sebagai negara yang memiliki beragam terobosan, mulai dari industri kendaraan bermotor sampai jadwal kereta api. Untuk urusan wisata, Negara Panser ini juga selalu memperbarui programnya, agar semakin banyak turis yang datang.

Dalam tujuh tahun terakhir, Jerman telah dikunjungi oleh sebanyak 80 juta turis. Hingga tahun 2030, German National Tourist Board (GNTB) menargetkan angka tersebut naik sebanyak dua kali lipat.

Tahun depan, GNTB meluncurkan kampanye wisata bertajuk ‘Culinary Germany.’

Dipopulerkan dengan tagar di media sosial #EnjoyGermanFood, dalam programnya Jerman akan mengajak turis berkunjung ke 16 negara bagian untuk menyicipi beragam kuliner khas mulai dari sosis sampai bir.

“Turis bisa menyicipi beragam kuliner, di tempat makan sederhana sampai mewah. Sebagai informasi, Jerman memiliki 290 restoran yang mendapat penghargaan bintang Michelin,” kata Direktur ASEAN Badan Pariwisata Jerman (GNTB), Chun Hoy Yuen kepada CNNIndonesia.com pada Kamis (16/11).

Chun juga mengklaim, kalau semua kalangan bisa menikmati wisata di Jerman. Kampanye ‘Culinary Germany’ juga bisa dinikmati oleh turis Muslim, karena kuliner Jerman juga bisa dinikmati dalam konsep halal.

“Komunitas Turki juga ambil bagian dalam budaya Jerman. Jumlah mereka cukup banyak. Jadi tentu saja turis Muslim tak perlu merasa khawatir mencari tempat makan dan tempat ibadah di Jerman,” ujar Chun.

Jerman mengaku sudah siap menyambut turis Muslim, turis wanita, sampai turis manula. Namun bagaimana dengan turis dengan keterbatasan fisik?

[Gambas:Instagram]

“GNTB telah lama punya program untuk turis dengan disabilitas, yang kami namakan ‘Barrier-free Travel.’ Program tersebut berupa panduan berwisata bagi turis dengan keterbatasan fisik, jadi mereka tetap bisa menikmati wisata di Jerman, seperti datang ke museum misalnya,” kata Chun.

Panduan ‘Barrier-free Travel’ bisa diketahui melalui situs resmi GNTB. Saat dikunjungi, lamannya menunjukkan peta dan kawasan yang bisa dikunjungi oleh turis dengan disabilitas.

Tercatat, ada 12 kawasan di Jerman yang memiliki fasilitas dan layanan mumpuni bagi turis dengan keterbatasan fisik. Kawasan tersebut antara lain; Frankfurt, Bavaria, Berlin, Brandenburg, Thuringia, Saxony, Lower Saxony, sampai Düsseldorf.

Tak hanya ke museum, turis dengan disabilitas juga diajak mengunjungi objek wisata alam di luar ruang, seperti ke kebun anggur di Rhineland-Palatinate.

[Gambas:Instagram]

“Banyak museum yang telah dilengkapi oleh fasilitas untuk mereka. Mereka bisa merasakan pengalaman menikmati karya seni melalui suara atau sentuhan. Trotoar dan transportasi umum juga memiliki layanan yang memudahkan mereka. Di area utama, ada petugas wisata khusus yang bisa memandu mereka,” ujar Chun.

Beberapa tempat penginapan telah bekerjasama dengan GNTB dalam hal sosialisasi ‘Barrier-free Travel.’ Hotel-hotel yang ada dalam daftarnya antara lain; Hotel MutterHaus di Düsseldorf, Best Western Premier IB Hotel Friedberger Warte di Frankfurt, dan Scandic Potsdamer Platz di Berlin.

[Gambas:Instagram]

“Yang perlu mereka lakukan ialah menghubungi GNTB sebelum datang ke Jerman. Jelaskan mengenai kondisi fisik terkini dan rencana kegiatan berwisata yang ingin dijalani. Jika datang dalam kelompok besar, petugas kami siap memandu mereka,” pungkas Chun, yang juga mengatakan kalau tidak ada biaya tambahan yang diberikan untuk pemandu turis dengan keterbatasan fisik dari GNTB.

Sebanyak 18,4 juta turis dari Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah datang ke Jerman sepanjang 2016. GNTB menyebut kalau pasar turis asal ASEAN sangat potensial di tengah perekonomian yang sedang lesu saat ini.

Turis Indonesia menyumbang angka kedatangan sebanyak 7,9 juta juga pada tahun lalu.

(ard)


BACA JUGA