Pendidikan Online Berpotensi Bikin Bangkrut Perguruan Tinggi

Elise Dwi Ratnasari , CNN Indonesia | Jumat, 24/11/2017 19:46 WIB
Pendidikan Online Berpotensi Bikin Bangkrut Perguruan Tinggi Seorang profesor Harvard Business School memprediksi separuh kampus di AS akan bangkrut dalam 10-15 tahun yang akan datang. Bagaimana dengan Indonesia? (Foto: StartupStockPhotos/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Clayton Christensen, seorang profesor di Harvard Business School memprediksi separuh dari kampus di AS akan bangkrut dalam 10 hingga 15 tahun yang akan datang.

Ungkapan itu dimuat dalam laporan CNBC beberapa waktu lalu. Christensen sendiri terkenal berkat teori inovasi disruptif dalam bukunya yang terbit 1997 berjudul 'The Innovator's Dilemma.' Sejak itu ia mengaplikasikan teorinya itu dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan.

Dalam buku terbarunya 'The Innovative University', Christensen dan penulis lainnya Henry Eyring menganalisa masa depan perguruan tinggi, dan menyimpulkan pendidikan online akan menjadi pilihan pendidikan efektif, dan membuat pendidikan dengan model bisnis tradisional akan ditinggalkan.

Christensen secara spesifik memprediksi 50 persen dari 4.000 perguruan tinggi di AS akan bangkrut dalam 10 hingga 15 tahun yang akan datang. Pendapat itu pun diamini Departemen Pendidikan AS dan proyek Moody's Investros Service.


Meski demikian, Christensen memberi catatan bahwa ada satu hal yang tak bisa digantikan oleh pendidikan online yakni peran dosen. Dalam penelitiannya, ia menemukan alumini yang sukses memberi banyak bantuan atau donasi ke kampusnya karena dosen atau pelatih yang dulu mengajar.

Bagaimana dengan Indonesia? Najeela Shihab, pegiat pendidikan sekaligus pendiri sekolah Cikal, mengatakan pendidikan online berpotensi menggeser ruang kelas dalam pendidikan konvensional. Ini terjadi, kata dia, jika dunia pendidikan tidak adaptif terhadap perubahan dunia dan perubahan cara belajar.

"Indonesia memungkinkan untuk pendidikan online tapi tidak untuk semua aspek pendidikan," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Kamis (23/11).


Ia menuturkan, pada praktiknya pengajaran bisa didapat dari berbagai sumber tidak hanya daring atau luring, tak hanya guru atau tutor online. Jika bicara pendidikan hanya soal skill dan informasi, kata Najeela, mungkin tidak masalah jika online dominan.

Akan tetapi, jika bicara soal karakter atau nilai dan kompetensi, maka teladan juga magang yang intens tetap penting.

"Jadi sebetulnya bukan soal online atau offline. Semua pendidikan sebetulnya butuh kombinasi," tambahnya.

Kombinasi ini demi efektifitas pendidikan. Ada aspek yang memang efektif dengan online, ada pula yang efektif lewat offline atau tatap muka. Sisi positif bisa didapat dari keduanya, tapi dengan catatan guru dan murid bisa mengoptimalkan teknologi.


Di sisi lain, pendidikan online bisa jadi tantangan di Indonesia. Pendidikan online bicara soal teknologi dan sebenarnya tak ada efek negatif secara langsung yang disebabkan oleh teknologi. Menurut Najeela, efek negatif muncul karena pengguna alat tidak siap.

"Karena tingkat literasi di Indonesia cenderung rendah, sementara di dunia digital informasi membludak. Jadi ini tantangan," ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, bisa juga karena dalam pendidikan tidak terbiasa disiplin diri dan motivasi belajar internal. Saat pendidikan dengan teknologi perlu motivasi kuat dan komitmen, orang banyak yang tidak selesai.

Pendidikan online, jika ingin diterapkan, sebaiknya bukan sekadar memindah materi offline ke platform digital. Proses belajar dan jenis materi perlu disesuaikan. Indonesia, kata Najeela, seringkali tidak siap dengan materi sehingga kurang mudah dipahami dan kurang menyenangkan.

"Infrastruktur belajar dengan teknologi itu bukan cuma soal bandwith atau komputer canggih, tapi justru subyek penggunanya," tutupnya. (rah/rah)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA